Kamis, 09 April 2020

PENGEMBANGAN INSTRUMEN KOMPETENSI PENGETAHUAN BERBASIS HOTS


MAKALAH
PENGEMBANGAN INSTRUMEN KOMPETENSI PENGETAHUAN
BERBASIS HOTS
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Evaluasi Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah
Yang dibimbing oleh :
Dr. Hj. ST MISLIKHAH, M.Ag





Oleh
HAMDAN KHOIRON
NIM. 0849419017

PROGRAM STUDI PEDIDIKAN PENDIDIK MADRASAH IBTIDAIYAH
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER

April, 2020



KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr wb.
Alhamdulillah puji Syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayahnya serta atas segala kuasa dan perlindungan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah ini dengan baik walaupun tidak bisa maksimal dan seperti yang diharapkan.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung  Muhammad SAW, yang mana telah menerangi kita dari zaman penuh kegelapan menuju pada zaman yang terang benderang yakni ad-Dienul Islam serta menjadi teladan kita sepanjang zaman dan limpahan rahmat kepada para Shahabat dan para kerabat Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah yang dibimbing oleh Dr. Hj. ST Mislikhah, M.Ag. Penulis mengambil kajian tentang Pengembangan Instrumen Kompetensi Pengetahuan berbasis HOTS yang dikembangkan oleh beberapa ilmuan sehingga nantinya penulis dapat memberikan gambaran tentang kajian tersebut kepada para pembaca makalah ini.
Penulis menyadari atas keterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak mustahil apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam isi dan metode penulisan yang digunakan. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                  Banyuwangi, 3 April 2020

                                                                                  Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
 Seiring dengan implementasi kurikulum 2013, diharapkan adanya perubahan paradigma pada pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran yang pada awalnya berpusat pada guru berunah menjadi berpusat pada siswa. Namun guru diharapkan lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pembelajaran penerapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mengumoulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan diharapkan dapat merubah iklim pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan partisipatif serta mampu merangsang kemampuan kritis dan analisis siswa, bahkan sampai membuat siswa menghasilkan sebuah karya. Dengan kata lain, pembelajaran diharapkan berada pada level yang lebih tinggi baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Penerapan beberapa model pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (project based learning),pembelajaran berbasis masalah (problem based learning),pembelajaran dengan pendekatan penyelesaian masalah (problem solving),menemukan (discovery/ inquiry) menjadi peluang bagi guru untuk menerapkan kegiatan pembelajaran pada level HOTS (Higher Order Thinking Skill).Tinggal bergantung kepada kemampuan guru dalam merencang dan mengimplementasikannya pada pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran pun diharapkan didesain secara kolaboratif untuk melatih kerjasama, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berargumentasi, serta kemampuan mengendalikan emosi. Dengan demikian, disamping belajar materi pelajaran, siswa pun diberikan penanaman pendidikan karakter dan literasi sebagaimana yang saat ini diamanatkan oleh Kemdikbud dimana kedua hal tersebut harus diintegrasikan pada kegiatan pembelajaran.
Pada prakteknya, penerapan pembelajaran HOTS bukan hal yang mudah dilaksanakan oleh guru. Disamping guru harus benar-benar menguasai materi dan strategi pembelajaran, guru pun dihadapkan pada tantangan dengan lingkungan dan intake siswa yang diajarnya. Kadang guru sudah merasa berbuat maksimal agar kegiatan pembelajaran menarik, tetapi respon para siswa tetap saja dingin, dan relatif pasif. Kegiatan pembelajaran masih berkutat pada duduk, dengar, catat, dan hafal        Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari berbagai perubahan baik dari sikap (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (KI3) dan keterampilan (KI4) yang dicapai peserta didik. Pada dasarnya hasil belajar siswa dapat dinyatakan dalam 4 Kompetensi Inti yaitu Kompetensi Inti (KI 1) yang meliputi kemampuan bidang spiritual, Kompetensi Inti (KI 2) yang meliputi kemampuan bidang sikap, Kompetensi Inti (KI 3) yang  meliputi kemampuan bidang  pengetahuan dan Kompetensi Inti (KI 4) yang meliputi kemampuan bidang ketrampilan. Keempat Komptensi Inti tersebut saling terkait, dan pasti terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Namun, kebutuhan dari masing-masing kompetensi tersebut sangat variatif sehingga karateristik mata pelajaran atau tema yang diajarkan juga sangat berpengaruh dalam hal pemahaman kepada peserta didik.
Dengan demikian tugas utama para pendidik tidak hanya sebagai seseorang yang bisa membuat peserta didik menjadi orang yang terpelajar dengan kepandaiannya namun diharapkan juga dapat menjadi suri tauladan untuk bidang spriritual dan sosialnya. Maka dalam hal ini terjadilah keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi.











B.       Rumusan Masalah
Dalam hal ini penulis merumuskan beberapa masalah yang timbul yaitu :
A.    Apa pengertian Hots?
B.     Apa saja  faktor dan karakteristik Hots?
C.     Apa yang dimaksud level kognitif Hots?
D.    Bagaimana soal hots dan tingkat kesukarannya?
E.     Apa peran soal hots dalam penilaian hasil belajar?

C.      Tujuan
A.  Menjelaskan tentang definisi Hots
B.  Menjelaskan faktor dan karakteristik hots
C.  Menjelaskan yang dimaksud level kognitif Hots
D.  Menjelaskan bagaimana soal Hots dan tingkat kesukarannya
E.  Menjelaskan peran soal Hots dalam penilaian hasil belajar
















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian keterampilan berfikir tingkat tinggi (Hots)
     Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking)Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memoryBerpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian (Rianawati, 2011).
Kemampuan berpikir tingkat tinggi didefinisikan sebagai penggunaan pikiran secara lebih luas untuk menemukan tantangan baru. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi baru (Heong dkk, 2011). Berpikiir tingkat tinggi adalah berpikir pada tingkat lebih tinggi daripada sekedar menghafalkan fakta atau mengatakan sesuatu kepada seseorangpersis seperti sesuatu itu disampaikan kepada kita. Wardana (2010) mengatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang melibatkan aktivitas mental dalam usaha mengeksplorasi pengalaman yang kompleks, reflektif dan kreatif yang dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan, yaitu memperoleh pengetahuan yang meliputi tingkat berpikir analitis, evaluatif, dan mencipta.
Menurut yunistika (2016) definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi didapatkan dari hasil investigasi terhadap tiga area yang memberikan kontribusi dalam memahami keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan lebih baik. Adapun ketiga area tersebut antara lain yaitu: (a) pandangan yang berbeda dari filsuf dan psikolog terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi; (b) usaha untuk membedakan antara keterampilan berpikir tingkat rendah dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan (c) sebuah gambaran yaitu mengenai hubungan antara berpikir kritis dan berpikir pemecahan masalah dengan istilah keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Menurut Piaget dalam Yunistika (2016), keterampilan berpikir tingkat tinggi bersifat abstrak dan logis. Abstrak yang dimaksud oleh Piaget adalah “terlepas dari persepsi dan tindakan yang rata-rata dilakukan”. Berpikir yang terikat pada satu persepsi atau aksi tertentu merupakan keterampilan berpikir tingkat rendah seperti contoh pada tahap sensori motorik atau praoperasional. Berpikir dengan lebih sedikit terikat pada persepsi dan tindakan merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal ini dapat dicontohkan seperti berpikir konkrit dan operasional formal. Dengan kata lain, keterampilan berpikir tingkat tinggi yang abstrak dan logis menuntut anak yang dalam hal ini peserta didik untuk mampu berpikir konkret dan operasional formal.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi muncul ketika seseorang menerima informasi baru dan informasi tersebut dimasukkan ke dalam memori dan informasi tersebut dikaitkan antara satu dengan yang lain untuk mencapai sebuah tujuan atau menemukan jawaban yang memungkinkan dalam menjawab sebuah situasi yang membingungkan (Lewis dan Smith, 1993). Selanjutnya Pertiwi (2014) menjelaskan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi meliputi berpikir kritis, logis, reflektif dan kreatif. Keterampilan berpikir tingkat tinggi diaktivasi ketika individu mendapatkan masalah. Masalah yang sangat kompleks sering membutuhkan solusi yang kompleks dimana diperoleh dari proses berpikir tingkat tinggi.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas, dapat ditarik suatu pemahaman bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan untuk mengolah informasi secara berpikir kritis, logis, reflektif dan kreatif untuk memecahkan permasalahan dalam berbagai situasi. Dalam tulisan ini, Hots difokuskan pada keterampilan berpikir kritis dan kreatif.


B. Faktor dan karakteristik Hots
     Menurut Stephen dalam Yunistika (2016) untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi oleh peserta didik dalam sebuah pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut diantaranya adalah perbedaan pegetahuan dan keterampilan guru, serta pengaruh lingkungan.
Guru memegang tugas yang penting sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Oleh karenanya semakin berpendidikan tinggi dan berpengalaman seorang guru akan memberikan pengaruh dalam mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi kepada peserta didik. Guru yang telah lebih banyak memahami isu-isu pedagogik serta menjadi ahli dalam bidang tersebut akan memberikan proses pembelajaran dengan menjadikan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai tujuan pengajaran serta akan diajarkan dengan frekuensi yang lebih banyak dibandingkan dengan guru yang lebih kurang pengetahuan dan keterampilannya dalam mengajar.
Pengaruh yang diberikan oleh lingkungan sangat beragam. Lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berada di luar guru dan siswa itu sendiri. Seperti contoh aturan birokrasi tempat guru mengajar yang bertujuan terlalu membiasakan pekerjaan yang dilakukan oleh guru akan menurunkan semangat guru untuk mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai tujuan pengajaran kepada siswa. Sehingga, dengan kata lain guru hanya dibiarkan menggunakan model/metode lama dalam mengajar.
Selain faktor-faktor diatas, terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami dalam penerapan Hots. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
ü  Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa.
ü  Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi.
ü  Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing.
ü  Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).
Prinsip-prinsip tersebut menjelaskan bahwa Hots memerlukan proses pengolahan informasi yang mendalam dan tidak “muncul” begitu saja. Untuk memiliki kemampuan pengolahan informasi yang baik, maka diperlukan adanya latihan untuk melatihkan kompetensi berpikir tingkat tinggi siswa. Menurut Adang (1985), Suastra & Kariasa (2001), siswa hendaknya diberi kesempatan sebagai berikut.
ü  Mengajukan pertanyaan yang mengundang berpikir selama proses belajar mengajar berlangsung.
ü  Membaca buku-buku yang mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut.
ü  Memodifikasi atau menolak usulan yang orisinil dari temannya, guru atau dari buku pelajaran.
ü  Merasa bebas dalam mengajukan tugas pengganti yang mempunyai potensi kreatif dan kritis.
ü  Menerima pengakuan yang sama untuk berpikir kreatif dan kritis seperti juga untuk hasil belajar yang berupa mengingat.
ü  Memberikan jawaban yang tidak sama persis dengan yang ada dalam buku, namun konsep atau prinsipnya benar.
Adanya pengaruh yang positif dari berbagai faktor dan latihan yang intensif diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan Hots.
Setelah memahami pengertian dan sedikit konsep soal Hots tersebut, barulah guru dapat menyusun soal-soal yang sesuai. Setidaknya, ada tiga karakteristik soal-soal HOTS yang merupakan ciri khas soal HOTS dengan soal-soal bukan HOTS, yaitu sebagai berikut.
1. Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses menganalisis, merefleksi, memberikan argumen, dan menerapkan konsep dalam situasi yang berbeda. Itulah sebabnya, jawaban atas soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus.
Soal HOTS dirancang untuk mendorong peserta didik mendapatkan jawaban yang kreatif dan ahli dalam pengambilan keputusan secara efektif. Peserta didik juga diharapkan dapat berlatih mengeluarkan argumen dan memecahkan masalah.
Melalui soal HOTS, peserta didik dituntut untuk kreatif menyelesaikan masalah yang tidak familiar, mampu mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, serta dapat menemukan model penyelesaian alternatif yang berbeda dengan yang dilakukan sebelumnya. Dengan ini, kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di ruang kelas, termasuk melalui penilaian.
2. Berbasis Permasalahan Konstekstual
Soal HOTS adalah asesmen yang berbasis situasi nyata dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran tersebut dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sehari-hari, seperti lingkungan hidup, kesehatan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan.
3. Menggunakan Bentuk Soal yang Beragam
Soal HOTS berbentuk beragam supaya dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh terhadap kemampuan peserta tes. Dengan demikian, guru dapat memberikan penilaian yang lebih objektif. Ini berarti bahwa penilaian guru tersebut sesuai dengan kondisi nyata.
Ada beberapa alternatif soal yang bisa digunakan, yaitu pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, isian singkat atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek, dan uraian. Untuk melakukan penskoran, pembuat soal dapat menggunakan pedoman penskoran. Skor dapat diukur dari banyaknya langkah yang harus ditulis atau jumlah kata kunci yang benar.


C. Level Kognitif

Level kognitif adalah kapabilitas siswa dalam penerimaan sesuatu yang dijelaskan dan diklasifikasikan kedalam tiga taraf kognitif.
Berikut merupakan tiga level kognitif:
Ø  pada level 1 berkutat pada kapabilitas siswa di ranah kognitif yang rendah seperti pemahaman dan mengetahui (knowing).
Ø  Pada level 2 berkutat pada kapabilitas siswa di ranah kognitif yang menengah dan tinggi seperti implementasi dan pengaplikasian (applying).
Ø  Pada level 3 berkutat pada kapabilitas siswa di ranah kognitif tingkat tinggi seperti penalaran (reasoning).
Perspektif level kognitif yang didasarkan pada teori benjamin S. Bloom juga ada tiga, yaitu:
Ø  Level 1: menghafal/mengingat (c1) dan memahami (c2)
Ø  Level 2: mengaplikasikan/implementasi (c3)
Ø  Level 3: analisis (c4), evaluasi (c5), dan membuat (c6).
Level Kognitif Hots dan Lots
Adapun penjabaran tentang kapabilitas siswa yang fharus dipenuhi dari tiap-tiap level kognitif ialah diantaranya sebagai berikut:
Ø  Level 1: di level ini berkenaan dengan kapabilitas siswa dengan kesulitan yang rendah dalam memahami sebuah materi, karena pada level ini siswa hanya dituntut untuk bisa mengingat dan memahami (knowing).
·         Mempertunjukan hafalan dan penguasaan pada materi pembelajaran dasar dan bisa menciptakan generalisasi yang simpel.
·          Memperlihatkan kemampuan dasar saat memecahkan masalah dari sebuah materi pelajaran
·         Mempertunjukkan penguasaan dasar pada sebuah materi bergambar, tabel dan grafik.
·         Bisa menunjukkan cara menghubungkan bukti/fakta dasar dengan memakai istilah yang lebih simpel.
Ø  Level 2: di level ini adalah mengenai kapabilitas siswa dalam mengaplikasikan (applying)
·         Memepertunjukkan pemahaman dan pengetahuan tentang materi pembelajaran, selanjutnya siswa dapat mengaplikasikan ide dan konsep tersebut kedalam suatu bentuk.
·         Siswa dapat memperlihatkan kemampuan dalam menafsirkan dan menganalisis sebuah data dan informasi secara dalam dan luas.
·         Menunjukkan cara memecahkan masalah yang ringandan sulit dalam sebuah materi pelajaran.
·          Bisa memahami dan mampu menafsirkan sebuah tabel, grafik dan gambar.
·         Bisa menghubungkan fakta yang tersusun dan bisa membangun penjelasan dengan istilah/analogi lain.
Ø  Level 3: di level ini adalah mengenai kemampuan siswa dalam logika dan penawaran (reasoning).
·         Menunjukkan penguasaan dan pemahaman yang mendalam tentang pelajaran. Selin bisa mengaplikasikan ide dan konsep dalam kedaan yang biasa dan umum.
·         Bisa melakukan sintesis, analisis dan evaluasi setiap ide dan informasi dalam konteks yang dibutuhkan.
·         Menjabarkan koneksni antara informasi dan konsep kedalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan.
·         Bisa menafsirkan setiap ide rumit pada materi pembelajaran.
·         Bisa menjelaskan sebuah dari sebuah realitas dengan istilah yang mudah dimengerti.
·         Menemukan solusi dari masalah yang ada dan mengaitkan dengan banyak faktor.
·         Mempresentasikan ide dan gagasan yang orisinil.


D.  Soal Hots dan Tingkat Kesukarannya
          Level kognitif dan level kesulitan soal merupakan hal yang berbeda. Level kognitif mengacu pada tingkat penalaran yang digunakan, sehingga kita mengenal dengan istilah Hots maupun Lots. Hots adalah skill yang memerlukan penalaran tingkat tinggi, yang pada umumnya dikaitkan dengan level C4 C5 dan C6 pada teori Bloom. Lots, pada umumnya disejajarkan dengan C1 dan C2 pada teori Bloom.
          Tingkat kesulitan soal dikaitkan dengan tingkat kerumitan pengerjaan soal, walaupun sebenarnya tidak memerlukan penalaran tingkat tinggi. Misal, kita dapat membuat soal Matematika yang rumit walau hanya level c3. Perkalian, pembegian dengan angka besar atau pecahan yang rumit akan membuat soal sulit untuk diselesaikan. Pengisisan teka-teki silang, sebenarnya hanya memerlukan level kognitif C1 atau C2, karena hanya ingatan tentang nama atau kosa kata tertentu, sering kali kita tidak dapat menyelesaikan karena lup atau bahkan belum mengenalnya. Namun begitu kita ingat atau membaca atau diberi tahu nama atau kosaa kata itu, pengisian teka-teki silang akan selesai. Jadi TTS dapat dibuat sulit tetapi level kognitifnya rendah.
          Sebaliknya, soal-soal PISA sebenarnya sederhanatetapi memerlukan level penalaran cukup tinggi, biasanya pada level C4. Misal ada soal yang menyajikan gambar beberapa bejana dengan bentuk yang berbeda-beda, semua berisi air dan ditanyakan mana yang lebih cepat penguapannya. Untuk menjawab soal itu diperlukan kemampuan analisis, bahwa penguapan berkorelasi dengan suhu dan luas permukaan yang terbuka. Jika logika itu dikuasai oleh siswa, akan dengan mudah untuk menjawabnya. Sebaliknya, jika kemampuan analisis tidak dimiliki maka akan sulit mengerjakan.
          Pemahaman bahwa level kognitif dan tingkat kesukaran soal merupakan dua konsep yang terpisah dan tidak selalu berkorelasi sangat penting bagi guru. Terlebih lagi dengan muncuknya keinginan menumbuhkan penalaran sejak dini. Jika anak-anak MI sudah didorong untuk belajar bernalar dengan level kognitif tinggi, tentulah harus dicarikan objek yang sederhana. Nah, guru harus dapat mencarikan objek pembahasan sederhana tetapi dapat digunakan untuk penalaran tingkat tinggi (Hots). Sebaliknya, guru juga harus dapat mencari objek yang tingkat kesulitannya tinggi akan tetapi levelnya rendah. Juga dapat mencari objek yang level kognitifnya tinggi dan tingkat kesulitannya juga tinggi.
E. Peran Soal Hots dalam Penilaian
          Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi yang dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian yang dilakukan pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Sementara itu, penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan. Penilaian ini meliputi aspek pengetahuan, sikap dan ketrampilan.
          Tujuan soal Hots adalah untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Beberapa peran soal Hots dalam penilaian MI yaitu sebagai berikut:
1.      Mempersiapkan kompetensi peserta didik menyongsong abad ke-21
pertama, penilaian berbasis soal Hots diharapkan dapat membekali peserta didik dengan sejumlah kompetensin yang dibutuhkan pada abad ke-21. Umumnya, ada 3 kelompok kompetensi yang dibutuhkan, yaitu memiliki karakter yang baik, antara lain beriman dan bertaqwa, pantang menyerah, dan kepekaan sosial dan berbudaya.
Kedua, memiliki sejumlah kompetensi penting, seperti berpikir kritis dan kreatif, mampu memecahkan masalah, mampu melakukan kolaborasi dan komunikasi.
Ketiga, menguasai literasi yang mencakup ketrampilan berpikir dengan menggunakan sumber-sumber pengetahuan yang terwujud dalam bentuk visual, digital, cetak atau auditori.
Soal-soal Hots dalam penilaian diharapkan dapat mengasah kempuan dan ketrampilan sesuai ketiga tuntutan tersebut. Penilaian berbasis soal Hots akan mendorong peserta didik untuk memiliki ketrampilan berpikir kritis, memiliki kreatifitas, dan memiliki rasa percaya diri.

2. Memupuk rasa cinta dan peduli terhadap kemajuan daerah
Soal-soal Hots seharusnya dikembangkan secara kreatif sesuai dengan situasi dan kondisi pada masing-masing daerah. Guru dituntut untuk memilih stimulis yang berbasis permasalahan daerah. Dengan demikian, jenis stimulus ini bersifat kontekstual. Hal ini akan menjadi sangat menarik karena dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh peserta didik.
Selain itu, penyajian soal-soal Hots yang kontekstual akan meningkatkan rasa memiliki dan cinta potensi daerahnya masing-masing. Peserta didikpun akan merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam memecahkan permaslahan yang timbul disekitarnya.
3. Meningkatkan mutu penilaian
Penilaian yang berkualitas pasti akan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Ditinjau dari hasil yang didapat kan diujian semester dan ujian nasional, ada tiga kategori sekolah, yaitu sekolah unggul, sekolah biasa, dan sekolah yang perlu dibina. Sekolah yang perlu dibina adalah bila rerata ujian semester adalah lebih besar dari rerata ujina nasional. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah soal buatan guru lebih rendah level kognitifnya dari pada soal UN. Selain itu, soal-soal Hots mungkin belum disisipka dalam ujian semester sehingga peserta didik tidak terbiasa mengerjakan soal-soal Hots.
4. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik
Pendidikan di sekolah seharusnya dapat menjawab tantangan yang terjadi di tengah masyarakat sehari-hari. Itulah sebabnya, ilmu pengetahuan yang dipelajari di ruang kelas sebaiknya terkait langsung dengan masalah dimasyarakat. Hal inipun akan membuat peserta didik merasakan bahwa materi pelajaran dapat menjadi bekal untuk terjun di tengah masyarakat.
Tantangan-tantangan yang terjadi tersebut dapat dijadikan stimulus kontekstual dan menarik dalam penilaian dan diharapkan dapat menambah motovasi belajar peserta didik.


         
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Kemampuan berpikir tingkat tinggi didefinisikan sebagai penggunaan pikiran secara lebih luas untuk menemukan tantangan baru. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi baru
2.      untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi oleh peserta didik dalam sebuah pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor,diantaranya adalah perbedaan pengetahuan dan keterampilan guru, serta pengaruh lingkungan. Adapun karakteristik soal Hots ialah diantaranya, Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi, Berbasis Permasalahan Konstekstual dan Menggunakan Bentuk Soal yang Beragam.
3.      Level kognitif adalah kapabilitas siswa dalam penerimaan sesuatu yang dijelaskan dan diklasifikasikan kedalam tiga taraf kognitif, yaitu knowing, applying dan reasoning.
4.      Pemahaman bahwa level kognitif dan tingkat kesukaran soal merupakan dua konsep yang terpisah dan tidak selalu berkorelasi sangat penting bagi guru. Terlebih lagi dengan muncuknya keinginan menumbuhkan penalaran sejak dini. Jika anak-anak MI sudah didorong untuk belajar bernalar dengan level kognitif tinggi, tentulah harus dicarikan objek yang sederhana. Nah, guru harus dapat mencarikan objek pembahasan sederhana tetapi dapat digunakan untuk penalaran tingkat tinggi (Hots).
5.      Tujuan soal Hots adalah untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Beberapa peran soal Hots dalam penilaian MI yaitu diantaranya mempersiapkan peserta didik menyongsong masa depan, memupuk kepedulian terhadap daerah, meningkatkan mutu penilaian dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik.






DAFTAR PUSTAKA

Arthur lewis and David Smith. 1993. Defining High Order Thinking, Theory Into Practice, Collage           of Education: The Ohio State University, 32,  h. 136.
Heong, Y.M., Othman, W.D., Md Yunos, J., Kiong, T.T., Hassan, R., & Mohamad, M.M. 2011.     The Level Of Marzano Higher Order Thinking Skills Among Technical Education        Student.International Journal Of Social And Humanity, Vol. 1(2).
Istiyono, E., Mardapi, D., dan Suparno. Pengembangan Tes Kemanpuan Berpikir Tingkat Tinggi   Fisika (physTHOTS) Peserta Didik SMA. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.     Universitas Negeri Yogyakarta.
Julianingsih, S. 2017. Pengembangan Instrumen Asesmen High Order Thinking Skill (HOTS) Untuk         Mengukur Dimensi Pengetahuan IPA Siswa Di SMP. Skripsi. FIKP : Universitas Lampung.
Khoiriah. 2017. Pengembangan Instrumen High Order Thinking Skills Untuk Menumbuhkan Self Regulated Learning Siswa SMP. Tesis. FIKP : Universitas Lampung.
Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl. 2010. Kerangka Landasan Untuk: Pembelajaran,    Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,  h. 120-130.
Pertiwi, R.D. 2014. Penerapan Constructive Controversy dan Modified Free Inquiry terhadap       HOTS Mahasiswa Pendidikan Biologi. Jurnal Formatif, Vol. 2, h. 102.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik

MAKALAH Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Tematik...