MAKALAH
“MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS
ICT”
Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pengembangan Media
Pembelajaran Berdasarkan ICT’
yang di Bimbing Oleh:
Dr. Khotibul Umam, M. A Dr.
A. Suhardi, S.T., M.Pd.
![]() |
Di Susun Oleh :
KHUSNUL
KHOVIA NIM. 0849419012
PROGRAM
STUDI PENDIDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER MARET 2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr.Wb
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena
rahmat serta hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dan semoga
sholawat dan salam tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW. Yang telah membawa kita dari jurang- jurang kehancuran dan dari jalan yang
gelap gulita menuju jalan yang terang benderang, yakni agama Islam.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada pihak-pihak yang
telah memberikan masukan yang bermanfaat sehingga makalah kami ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Disamping itu penulis juga menyadari makalah
ini tidak terlepas dari segala kekurangan, oleh karenanya segala bentuk
kritikan sangat penulis harapkan untuk selangkah lebih maju pada kesempatan
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya
dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum
Wr.Wb
Penulis, 26 Maret 2020
Khusnul Khovia
DAFTAR
ISI..................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................. 2
PEMBAHASAN............................................................................................... 3
A. Fungsi Media Pembelajaran Berbasis ICT........................................... 3
B. Penggunaan Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT......... 3
C.
Cara
Mengembangkan Pembelajaran Media ICT................................ 4
BAB
III PENUTUP 19
Perkembangan media pembelajaran hingga sampai abad ke-20, membawa
pengaruh yang sangat signifikan dan berimplikasi dalam dunia pendidikan.
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dikembangkan membawa pengaruh-pengaruh
dalam setiap elemen pembelajaran, sehingga membentuk suatu paradigma baru
terkait dengan pendidikan dan pembelajaran.
Teknologi informasi dan komunikasi atau multimedia menjadi pilihan yang
tepat untuk digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan pesan pendidikan, karena
dalam penggunaan media yang berbasis ICT/ Multimedia ini mampu memperjelas
setiap makna pesan yang disampaiakan dan mampu mencakup setiap modalitas
belajar peserta didik.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang
abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi
sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Berbagai materi yang berkaitan
dengan sejarah masa lalu akan lebih konkrit dan mudah dipahami apabila
disampaikan oleh guru dengan gambar-gambar foto, film dokumenter, atau animasi
seperti hewan purbakala, animasi ruangruang dalam piramide Mesir dan
sebagainya.1
Sekarang ini kita hidup dalam era informasi yang ditandai dengan
tersedianya informasi yang semakin banyak dan bervariasi, tersebarnya informasi
yang makin meluas dan seketika, serta tersajinya informasi dalam berbagai
bentuk dalam waktu yang cepat. Karena semua usaha pengumpulan, engolahan,
penyimpanan, dan penyajian informasi senantiasa menggunakan media, maka era ini
dapat pula disebut lingkungan bermedia.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa fungsi media
pembelajaran berbasis ICT?
2.
Bagaimana penggunaan
pengembangan media pembelajaran berbasis ICT?
3.
Bagaimana cara mengembangkan
pembelajaran media ICT?
1 Nunuk Suryani, Pengembangan
Media Pembelajaran Berbasis IT. (Pascasarjana Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas
Maret, 2015), 2.
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui fungsi
media pembelajaran berbasis ICT
2.
Untuk mengetahui penggunaan
pengembangan media pembelajaran
berbasis ICT
3.
Untuk mengetahui cara
mengembangkan pembelajaran media ICT
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fungsi Media
Pembelajaran ICT
Kegiatan pembelajaran melibatkan berbagai komponen. Salah
satunya yang tidak kalah penting adalah komponen media. Media memiliki fungsi
dan kegunaan yang sangat penting untuk membantu kelancaran proses pembelajaran
dan efektivitas pencapaian hasil belajar.
1.
Fungsi Media Pembelajaran ICT
Menurut Levied an Lentz (Arsyad, 2005:26-17), khususnya
media visual, mengemukakan bahwa media pembelajaran
memiliki empat fungsi, yaitu atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan
fungsi kompensatoris. Fungsi atensi visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian peserta didik
untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual
yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Sering kali pada awal pelajaran
peserta didik tidak tertarik dengan materi pelajaran itu merupakan salah satu
pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka tidak memperhatikan. Media gambar
khususnya gambar yang diproyeksikan melalui overhead
projector (OHP) dapat menerangkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada
pelajaran yang akan mereka terima.
Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat
isi pelajaran semakin besar. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari
tingkat kenikmatan peserta didik ketika belajar atau membaca teks yang
bergambar. Gambar atau lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap peserta
didik, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau raas. Fungsin
kognitif media visual terlihat dari temuan visual atau gambar memperlancar pencapaian
tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam
gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian
bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu peserta
didik yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan
mengingatnya kembali, untuk mengakomodasikan peserta didik yang lemah dan
lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau
disajikan secara verbal.
Menurut Kemp dan
Dayton (1985), media pembelajaran
dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan,
kelompok, atau kelompok pendengar yang besar
jumlahnya, yaitu: a) memotivasi minat atau tindakan, b) menyajikan informasi dan, c) member instruksi. Untuk memenuhi fungsi motivasi, media
pembelajaran dapat direalisasikan dengan tehnik drama atau hiburan. Hasil yang
diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para peserta didik atau pendengar untuk bertindak
(turut memikul tanggung jawab, melayani
secara sukarela, atau memberikan sumbangan materiel). Pencapaian tujuan ini
akan memengaruhi sikap, nilai, dan emosi.
Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan
dalam rangka penyajian informasi di hadapan sekelompok peserta didik. Isi dan
bentuk penyajian bersifat umum, berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan,
atau pengetahuan latar belakang. Penyajian dapat pula berbentuk hiburan, drama,
tehnik motivasi. Ketika mendengar atau menonton bahan informasi, para peserta
didik bersifat peserta didik bersifat pasif. Partisipasi yang diharapkan dari
peserta didik hanya sebatas pada persetujuan atau ketidaksetujuan mereka secara
mental, atau terbatas pada perasaan tidak/kurang senang, netral, atau senang.
Media berfungsi untuk tujuan instruksi di mana informasi
yang di dapat dalam media itu harus melibatkan peserta didik, baik dalam benak
atau mental maupun dalam aktivitas yang nyata sehingga dapat terjadi. Materi
harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis dilihat dari segi
prinsip-prinsip belajar agar menyiapkan instruksi yang efektif. Di samping
menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang
menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan peserta didik.2
B.
Pengunaan
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT
1.
Penggunaan
Asumsi dasar dalam penggunaan
media pembelajaran adalah agar dalam proses pembelajaran berlangsung dengan
baik dan menarik. Media pembelajaran yang berbasis
2 Husniyah Salamah Zainiyah,
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis
ICT. (Surabaya:Kencana, 2017), 67- 68.
ICT/Multimedia
atau tidak pada dasarnya adalah alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan
kepada penerima pesan. Multimedia misalnya, ketika digunakan dalam proses pembelajaran
memadukan atau menggabungkan beberapa jenis media agar pesan yang disampaiakan
lebih bermakna kepada peserta didik.
Richard dengan penjelasannya yang rinci mengatakan,
multimedia sebagai prresentasi materi dengan menggunakan kata-kata sekaligus
gambar-gambar. ‘kata’ di sini adalah materinya disajikan dalam verbal form atau
bentuk verbal, misalnya menggunakan teks kata-kata yang tercetak atau terucapkan. Yang dimaksud dengan ‘gambar’
adalah materinya disajikan dalam fictorial form atau bentuk gambar. Hal ini
bisa dalam bentuk menggunakan grafik statik (termasuk: ilustrsi, grafik, foto
dan peta). Dalam buku teks, kata-kata bisa disajikan
sebagai teks cetak dan gambar bisa disajikan sebagai ilustrasi atau
bentuk-bentuk grafik lainnya.
Penggunaan media berbasis ICT atau Multimedia membawa
pengaruh-pengaruh psikologis bagi peserta didik dalam proses pembelajarannya.
Karena semakin banyak indera yang terjamah, maka semakin banyak pula cara
peserta didik dalam menerima, mengolah dan memaknai setiap pesan yang
disampaiakan oleh pendidik ketika menggunakan media pembelajaran yang berbasis
ICT/Multimedia.
Penggunaan media berbasis ICT/Multimedia akan berjalan
efektif dan akan mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada kegiatan peserta
didik (student/ learned centred learing),
yaitu dengan:
a. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan
permasalahan dalam kehidupan nyata (kontekstual), sehingga pendidikan menjadi
relevan dan responsif terhadap tuntutan kehidupan nyata sehari-hari.
Implikasinya kurikulum menjadi lebih menarik dan dapat merangsang minat atau
motivasi peserta didik, karena dapat langsung dengan mudah menerapkan
pengetahuannya dalam kehidupan nyata sehari- hari.
b. Menumbuhkan
pemikiran reflektif
c. Membantu perkembangan dan keterlibatan aktif dari peserta
didik dalam proses belajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa, penggunaan media
pembelajaran berbasis ICT/multimedia lebih kepada mengkongkritkan pengalaman
belajar peserta didik agar lebih dipahami dan dimaknai dengan lebih optimal.
Selain itu, proses pembelajaran akan bisa mengurangi keabstrakan sebuah materi
karena didukung oleh media pembelajaran yang berbasis ICT/Multimedia.
2. Manfaat
Media Pembelajaran Berbasis ICT/Multimedia
Media pembelajaran berbasis ICT/Multimedia memiliki manfaat
yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Jika ditilik secara seksama
media pembelajaran berbasis ICT memiliki dua manfaat dilihat dari
penggunaannya. Pertama, manfaat dilihat dari sisi pendidik sebagai pengguna
dari media. Kedua, manfaat dari sisi peserta didik sebagai penerima pesan yang
disampaiakan oleh pendidik.
Mengintegrasikan TIK/ Multimedia ke dalam pembelajaran
antara lain untuk meningkatkan kompetensi pengajar dalam mengajar dan
meningkatkan mutu belajar peserta didik. TIK yang sifatnya inovatif dapat
meningkatkan apa yang sedang dilakukan sekarang serta apa yang belum kita
lakukan tetapi akan dapat dilakukan ketika kita mulai menggunakan teknologi
informasi komunikasi.
Sudjana dan Rivai secara lebih rinci mengemukakan beberapa
manfaat media pengajaran dalam proses belajar mengajar antara lain.
1)
Pengajaran
akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
2)
Bahan
pengajaran akan lebih jelas maknanya
sehingga dapat lebih dipahami oleh
para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik
3)
Metode
pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui
penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak
kehabisan tenaga, apalagi bila guru
mengajar untuk setiap jam pelajaran
4)
Siswa lebih
banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru,
tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemontrasikan dan lain-lain.
Dapat dipahami bahwa, intraksi yang terjadi dalam proses
pembelajaran, meteri ajar yang disampaikan guru tidak sepenuh bisa dicerna
dengan baik, karena setiap indra yang menerima pesan memilki keterbatasan.
Untuk itu media pengajaran memilki peran yang sangat strategis untuk
menyalurkan pesan baik melalui indra pendengar, penglihatan maupun
kedua-duanya.3
C.
Tahapan
Pengembangan Media Pembelajaran ICT
1. Tahap
pengembangan media
Ada beberapa tahap pengembangan media, yaitu tahapan
perencanaan, tahap penulisan naskah dan tahap produksi media. Setiap tahapan
diuraikan di bawah ini.
a. Tahapapan perencanaan
Ely (1979) mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya
adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil
yang diharapkan. Suatu perencanaan diawali dengan adanya target atau Ely
mengistilahkan dengan kata “hasil” yang harus dicapai, selanjutnya berdasarkan
penelitian target tersebut dipikirkan bagaimana cara mencapainya. Sejalan
dengan pendapat di atas Kaufman (1972) memandang bahwa perencanaan itu adalah
sebagai suatu proses untuk menetapkan “kemana harus pergi” dan bagaimana untuk
sampai ke “tempat” itu dengan cara yang paling efektif efisien. Menetapkan “ke
mana harus pergi” mengandung pengertian sama dengan merumuskan tujuan dan
sasaran yang akan dituju. Adapun merumuskan “bagaimana agar sampai ke tempat
itu” berarti menyusun langkah-langkah yang dianggap efektif dalam rangka
mencapai tujuan. Sebuah rencana adalah sebuah dokumen dari hasil kegiatan.
Sejalan dengan pendapat diatas, Terry (1993) mengungkapkan
bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus
dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dari
penjelasan di atas, perencanaan pada dasarnya adalah penetapan tujuan yang
harus serta menentukan cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam perencanaan pengembangan media khususnya media audio
dan audiovisual ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan, yaitu
mengidentifikasi kebutuhan audiens (siswa) yang akan akan menggunakan media
yang akan kita kembangkan, merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa
mengembangkan butir- butir materi sesuai dengan tujuan, mengembangkan garis
besar pengembangan media.
1)
Indentifikasi kebutuhan
John Mcneil (1985) mendefinisikan need assessment sebagai ”the
process by which one defines education needs and decides what their priorities
are”. Menurut Mcniel assessment itu
adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan. Selanjutnya ia
mendefinisikan kebutuhan sebagai “….a
condition in swich there is a discrepancy between an acceptable state of
learner behavior or attitude and on abserved learned state.”
need assessment adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi dengan kesenjangan yang
seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki. Media direncanakan
dan dirancang berdasarkan kebutuhan (need)
yang dirasakan oleh audiensi atau siswa. Maka, merancang suatu media tidak
berangkat dari keinginan pengembangan media itu sendiri, akan tetapi berangkat
dari kesenjangan antara apa yang diharapkan dimiliki siswa dengan apa yang
telah dimiliki. Sebagai contoh, dalam materi tentang jenis-jenis kalimat, akan
tetapi dapat memberikan contoh-contoh rumusannya. Setelah guru merancang dan
mengimplementasikan hal-hal tersebut:
a)
Siswa memiliki kesulitan
dalam menyusun dan merumuskan kalimat majemuk.
b)
Siswa selalu salah dalam
memberikan contoh rumusan kalimat majemuk.
c)
Siswa
cenderung sulit membedakan antara rumusan kalimat majemuk dengan kalimat
tunggal
Berdasarkan analisis tersebut diatas, ditentukan perlunya
pengembangan media pembelajaran mengenai kalimat majemuk. Inilah hakikat
kebutuhan dalam pengembangan media.
2)
Identifikasi karakteristik siswa
Perlunya mengidentifikasi karakteristik siswa berangkat
dari asumsi bahwa siswa merupakan organism yang unik yang memiliki perbedaan.
Walaupun secara fisik siswa sama, akan tetapi pada bagian-bagian tertentu
memiliki perbedaan, misalnya dalam hal kemampuan dasar, minat, bakat, dan lain sebagainya. Atas dasar perbedaan
tersebut, maka pengembang media pembelajaran perlu menyesuaikan baik dengan
gaya bahasa, tehnik penyajian, tehnik memberikan instruksi, dan lain sebagainya.
Hal-hal yang perlu perhatikan dalam identifikasi
karakteristik sewa sehubungan dengan perencanaan pengembangan media
pembelajaran:
a) Tingkat
perkembangan psikologis siswa. Tingkat perkembangan siswa
berhubungan dengan usia audiensi (siswa) sebagai sasaran. Mengembangkan media
pembelajaran untuk anak usia TK/SD berbeda dengan mengembangkan media
pembelajaran untuk siswa SMP, SMA atau untuk umum,
baik dalam pengemasan materi, pemberian ilustrasi, dan lain sebagainya.
b) Kemampuan
dasar siswa. Kemampuan dasar yang dimiliki siswaa harus dijadikan
harus jadi petimbangan-pertimbangan dalam menentukan “harus dari mana kita
berangkat”. Di samping itu kemampuan dasar dapat dijadikan pedoman dalam
menentukan entry behavior.
c) Gaya
belajar siswa. Gaya belajar yang dimiliki
siswa dapat menentukan “bagaimana cara menuangkan ide/gagasan” dalam
pengembangan media pembelajaran. Menurut Deporter gaya belajar siswa terdiri atas gaya belajar yang kinestetik, audio, dan visual
(Deporter, dkk: 1998).
d) Kebiasaan
siswa. Kebiasaan siswa perlu diidentifikasi khususnya apabila
kita mengembangkan media pembelajaran yang bersifat masal, melalui siaran radio maupun televise. Kebiasaan siswa
dalam penggunaan waktu, kebiasaan penggunaan media termasuk tehnik penyajian
yang paling digemari.
b. Perumusan tujuan
Perumusan tujuan pembelajaran merupakan arah yang harus
dicapai oleh siswa. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran berhubungan dengan
perubahan perilaku yang harus dimiliki setelah siswa memanfaatkan media
pembelajaran yang kita kembangkan. Dengan tujuan pembelajaran, baik guru maupun
siswa diharapkan memiliki kesenjangan
apa
yang harus dicapai, apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan pencapaian tujuan
tersebut, materi apa yang harus disampaikan dan bagaimana penyampaiannya.
Sebagai petunjuk, perumusan tujuan harus memiliki ketentuan sebagai berikut:
1)
Berorientasi
pada siswa (learned oriented): artinya
rumusan tujuan pembelajaran harus berpatokan pada perilaku siswa, dan bukan
perilaku guru.
2)
Operation:
artinya tujuan harus dirumuskan secara spesifik dan operasional sehingga mudah
untuk mengukur tingkat keberhasilan.
c.
Pengembangan materi
Dalam pengembangan materi pembelajaran penerapan materi
atau bahan ajar merupakan hal yang penting, sebab materi pembelajaran merupakan
inti atau muatan dalam media itu sendiri. Materi pembelajaran dapat dibedakan
menjadi: pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill), dan sikap (attitude). Pengetahuan adalah informasi
yang disimpan dalam pikiran (mind) siswa,
dengan demikian pengetahuan berhubungan dengan berbagai informasi yang harus
dihafal siswa dan dikuasai siswa, sehingga manakala diperlukan siswa dapat
mengungkapkan kembali. Keterampilan (skill)
adalah tindakan-tindakan (fisik dan nonfisik) yang diperlukan seseorang dengan cara kompeten untuk mencapai
tujuan tertentu. Sikap (attitude) adalah kecenderungan
seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini kebenarannya oleh
siswa.
Materi berkaitan dengan isi pelajaran yang harus diberikan.
Kriteria penyusunan materi diantaranya:
1)
Sahih atau valid; artinya materi yang dikembangkan
benar-benar telah diuji kebenarannya dan kesahihannya.
2)
Tingkat kebermakanaan
(significant); artinya materi
pelajaran bermakna bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dikembangkan.
3)
Kebermanfaatan
(utility); artinya kebermanfaatan
materi yang disajikan secara akademis dan non akademis, yakni bermanfaat dalam
kehidupan sehari-hari.
4)
Kesesuaian
dengan siswa (learnability) artinya
materi yang disajikan harus dimungkinkan dapat dipelajari oleh siswa, dengan
demikian materi pelajaran harus sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
5)
Menarik minat (interest)
artinya penyajian materi pelajaran harus dapat memotivasi siswa mempelajari
lebih lanjut.
d. Pengembangan
alat ukur
Setelah merumuskan tujuan dan
menetapkan materi pembelajaran, langkah selanjutnya adalah merumuskan
alat ukur. Ada dua alasan penting perlunya merumuskan alat ukur; pertama, untuk menentukan benar atau
tidaknya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan misalnya, apa yang
dirumuskan berorientasi pada siswa? Apa tujuan yang dirumuskan merupakan
perubahan perilaku yang spesifik tidaknya, apakah perilaku yang dirumuskan
dalam tujuan pembelajaran adalah hasil pembelajaran? kedua, untuk menetapkan kriteria keberhasilan siswa mencapai tujuan
atau menguasai materi pelajaran.
2. Penulisan naskah
Naskah dalam perencanaan program media secara umum dapat
diartikan sebagai pedoman tertulis yang berisikan informasi tentang bentuk
visual yang akan ditampilkan, grafis atau tampilan kalimat untuk mempertegas
visual dan audio atau suara yang diperlukan sebagai acuan dalam pembuatan media
tertentu.
Ada berapa tahapan
penulisan naskah, sebagai berikut:
a.
Memunculkan dan memperkaya
ide atau gagasan
Gagasan atau ide biasanya akan muncul manakala seseorang
peka terhadap lingkungan dan pekerjaan sehari-hari. Dari kepekaan tersebut
kemudian ia berpikir bagaimana caranya agar pelajaran menarik dan menggairahkan
siswa melalui metode.
b.
Membuat sinopsis dan treatment
Sinopsis secara singkat dapat diartikan sebagai ringkasan
proram atau ringkasan cerita yang terdapat pada naskah. Sinopsis ini diperlukan
untuk memberikan gambaran ringkas dan padat tentang isi yang terkandung dalam media. Treatment merupakan
pengembangan sinopsis. Dalam sebuah treatment digambarkan alur cerita atau plot
program dari awal hingga akhir.
c.
Menulis naskah
Naskah sebagai pedoman atau penuntun dalam memproduk si
media. Artinya berdasarkan naskah itulah kita mengambil gambar dan merekam
suara kemudian menyusunnya dalam suatu urutan sehingga menjadi utuh.
d. Evaluasi
dan revisi naskah
Selesai menulis naskah, masih ada satu tahapan lagi sebelum
naskah itu diproduksi, yaitu tahap evaluasi dan revisi naskah. Evaluasi naskah
perlu dilakukan terhadap dua aspek, yaitu evaluasi
tentang substansi naskah itu sendiri dan evaluasi ke median. Evaluasi terhadap substansi
naskah, yakni evaluasi terhadap isi pelajaran yang terkandung dalam naskah yang
kita produksi. Dengan demikian, dalam evaluasi ini perlu melibatkan ahli bidang studi.
e.
Produksi media
Untuk menghasilkan media pembelajaran, kegiatan produksi
merupakan tahap akhir. Secara sederhana proses produksi media pembelajaran
terdiri atas tiga tahap yakni praproduksi (pre-production),
pelaksanaan produksi (production) pasca-
produksi.
Tahapan pra-produksi, adalah tahap sebelum pelaksanaan
produksi. Hal perlu dilakukan karena dua alasan penting, pertama, produksi media merupakan pekerjaan kolektif yang kompleks,
yang melibatkan orang banyak sehingga setiap orang perlu memahami peran
masing-masing. Kedua, media
pembelajaran merupakan pekerjaan yang bukan hanya mengandung proses kreatif
dengan segala imajinasi sesuai dengan naskah yang dikembangkan, akan tetapi
juga media pengembangan mengandung kebenaran ilmiah yang harus
dipertanggungjawabkan.4
Media berfungsi untuk tujuan
instruksi di mana informasi yang di dapat dalam media itu harus melibatkan
peserta didik, baik dalam benak atau mental maupun dalam
4 Husniyah Salamah Zainiyah,
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis
ICT. (Surabaya:Kencana, 2017), 104- 118.
aktivitas
yang nyata sehingga dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis dilihat
dari segi prinsip-prinsip belajar agar menyiapkan instruksi yang efektif. Di
samping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang
menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan peserta didik.
Penggunaan media berbasis ICT/Multimedia akan berjalan
efektif dan akan mengarah pada
pembelajaran yang berpusat pada kegiatan peserta didik (student/ learned
centred learing), yaitu dengan:
Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata (kontekstual), sehingga
pendidikan menjadi relevan dan responsif terhadap tuntutan kehidupan nyata
sehari-hari, menumbuhkan pemikiran reflektif, membantu perkembangan dan keterlibatan aktif dari peserta didik dalam proses belajar. Tahap pengembangan media ICT yaitu:
tahapapan perencanaan, perumusan tujuan, pengembangan materi, pengembangan alat
ukur produksi media.
DAFTAR
PUSTAKA
Salamah Zainiyah, Husniah. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis
ICT.
Surabaya:Kencana.
Suryani,
Husniah,
2015. Pengembangan
Media Pembelajaran Berbasis IT. Pascasarjana Program Studi Teknologi
Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar