MAKALAH
PENGEMBANGAN
INSTRUMEN ASESMEN KOMPETENSI PENGETAHUAN
Disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah
Evaluasi
Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah
Yang dibimbing oleh :
Dr.
Hj. ST MISLIKHAH, M.Ag

Oleh
MUHAMMAD DLABITH
NIM. 0849419006
PROGRAM STUDI PEDIDIKAN PENDIDIK MADRASAH
IBTIDAIYAH
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
Maret, 2020
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah
puji Syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufiq serta hidayahnya serta atas segala kuasa dan perlindungan-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah ini dengan baik walaupun tidak
bisa maksimal dan seperti yang diharapkan.
Shalawat serta salam
semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang mana telah menerangi kita
dari zaman penuh kegelapan menuju pada zaman yang terang benderang yakni
ad-Dienul Islam serta menjadi teladan kita sepanjang zaman dan limpahan rahmat
kepada para Shahabat dan para kerabat Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah yang
dibimbing oleh Dr. Hj. ST Mislikhah, M.Ag. Penulis mengambil kajian tentang
Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Pengetahuan yang dikembangkan oleh
beberapa ilmuan sehingga nantinya penulis dapat memberikan gambaran tentang
kajian tersebut kepada para pembaca makalah ini.
Penulis menyadari atas
keterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak mustahil
apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam isi dan metode penulisan yang
digunakan. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Jember, 27 Maret 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Ada
3 faktor yang perlu dipahami oleh seorang pendidik dalam proses pembelajaran.
Tiga faktor ini adalah evaluasi, cara belajar, dan tujuan pembelajaran.[1] Evaluasi
harus dilakukan secara teratur dan terus menerus supaya dapat menggambarkan
kemampuan para peserta didik yang dievaluasi. Kesalahan utama yang sering
terjadi di antara para pendidik adalah bahwa evaluasi hanya dilakukan pada saat
tertentu. Dalam pengembangan intruksional, evaluasi hendaknya dilakukan setiap
hari dengan jadwal yang sudah direncanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran, baik secara terstruktur dan tidak terstruktur.
Dalam
evaluasi, fungsi instrumen (alat) adalah untuk memperoleh hasil yang lebih baik
sesuai kenyataan. Alat evaluasi akan dianggap baik apabila mampu mengevaluasi
obyek dengan hasil seperti keadaan yang sesungguhnya (apa adanya). Dalam hal
ini sangat dipentingkan peran seorang pendidik yang kreatif dan tidak malas
untuk memperoleh hasil tersebut. Bentuk instrumen yang akan dipakai dalam
mengevaluasi juga sangat berpengaruh atas keberhasilan proses belajar mengajar.
Seorang
pendidik perlu memahami metode dan instrumen evaluasi supaya memperoleh
informasi yang diperlukan. Dari pemahaman bermacam-macam metode dan instrumen evaluasi
tersebut, kemudian dipilih yang paling tepat untuk diterapkan kepada peserta
didik. Di sini penulis akan membahas mengenai pengembangan instrumen asesmen
pada kompetensi pengetahuan.
Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari berbagai perubahan
baik dari sikap (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (KI3) dan keterampilan (KI4) yang dicapai peserta didik. Pada dasarnya
hasil belajar siswa dapat dinyatakan dalam 4 Kompetensi Inti yaitu Kompetensi
Inti (KI 1) yang meliputi kemampuan bidang spiritual, Kompetensi Inti (KI 2) yang meliputi kemampuan bidang
sikap, Kompetensi Inti (KI 3) yang
meliputi kemampuan bidang
pengetahuan dan Kompetensi Inti (KI 4) yang meliputi kemampuan bidang
ketrampilan. Keempat
Komptensi Inti tersebut saling terkait, dan pasti terlibat dalam setiap
kegiatan pembelajaran. Namun, kebutuhan dari masing-masing kompetensi tersebut sangat variatif sehingga karateristik mata pelajaran atau tema yang diajarkan juga sangat
berpengaruh dalam hal pemahaman kepada peserta didik.
Dengan demikian tugas
utama para pendidik tidak hanya sebagai seseorang yang bisa membuat peserta
didik menjadi orang yang terpelajar dengan kepandaiannya namun diharapkan juga
dapat menjadi suri tauladan untuk bidang spriritual dan sosialnya. Maka dalam
hal ini terjadilah keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi.
B. Rumusan Masalah
Dalam hal ini penulis
merumuskan beberapa masalah yang timbul yaitu :
A.
Bagaiman Definisi penilaian
(assesmen)?
B.
Bagaimana Prinsip-prinsip penilaian?
C.
Bagaimana Implementasi Instrumen Penilaian pada aspek pengetahuan?
C. Tujuan
A. Dapat menjelaskan
tentang definisi penilaian (assesmen)
B. Dapat menjelaskan
prinsip-prinsip penilaian (assesmen)
C. Dapat mengetahui
implementasi instrumen penilaian (assesmen) pada aspek pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penilaian
Penilaian
merupakan adalah suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai informasi
secara sistematis, berkala, berkelanjutan dan menafsirkan berbagai informasi
secara sistematis, berkala, berkelanjutan menyeluruh tentang proses dan hasil
dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak melalui
pembelajaran dan menginterpretasi informasi tersebut membuat keputusan, penilaian merupakan bagian integral yang
sering digunakan dengan hubungannya dengan penilaian yakni pengukuran, dan
evaluasi.[2]
Pengukuran adalah
proses sistetmatis tentang nilai-nilai numerik atau angka untuk suatu sifat
atau atribut pada orang atau objek melalui kegiatan pengukuran misalnya
mengukur tinggi dari suatu gedung, berat dari daging, mengukur panjang lebar.[3]
Pengukuran berkaitan erat dengan penelitian kuantitatif, alat ukurnya dengan
angka-angka dan perhitungan dengan statistik. Penelitian kuantitatif adalah
penelitian yang mementingkan kedalaman data, penelitin kuantitatif tidak
terlalu menitikberatkan pada kedalaman data dan populasi penelitian dapat
dianalisis oleh peran statistik.[4]
Evaluasi merupakan
suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang
dipertimbangkan, pelaksanaan evaluasi memerlukan sebuah tindakan untuk
memperoleh nilai dan hasil dari pengukuran. Evaluasi alat yang penting untuk
mendapatkan informasi tentang efektivitas pembelajaran yang dilakukan, alat
untuk mengetahui ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah
ditentukan, evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program
kurikulum.[5]
Tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan, ekonomi maupun dalam bidang lainnya
evaluasi merupakan kegiatan akhit dari sebuah proses kegiatan. Penilaian (asesment),
pengukuran (Measurement), dan evaluasi (evaluation) adalah tiga
bagian dari proses untuk mengetahui
keberhasilan suatu kegiatan belajar-mengajar. Penilaian adalah tahap
awal dari proses pencapaian, setelah itu langkah kedua yaitu dengan pengukuran
berupa tes tertulis dan wawancara. Tes tertulis adalah serangkaian kalimat yang
disusun dalam bentuk pertanyaan sedangkan wawancara yaitu tes lisan baik
langsung maupun tidak langsung yang
terdiri dari beberapa pertanyaan berdasarkan tujuan dari suatu kegiatan.
Tahap selanjutnya adalah evaluasi,
melalui penilaian, pengukuran sesorang dapat meyimpulkan hasil dari tujuan dari
pencapaian pendidikan.
Assesment adalah bagian dari evaluasi yang lebih luas
dari sekadar pengukuran. Assesment is broadaer in scope than measurement in
that it involves the interpretation and representation of measurement data.[6]
Penilaian adalah proses pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif yang
dilakukan dengan sengaja di dalam ruang kelas untuk mengetahui hasil dari
kemajuan monitoring secara terus menerus sebagai bagian dari penilaian.[7]
Penilaian alat pengukuran untuk memperoleh informasi dan data dari perkembangan
terhadap hasil proses belajar mengajar sehingga pendidik dapat mengatur
strategi dan metode yang cocok belajar dalam ruang kelas maupun belajar diluar
kelas. Penilaian mampu membaca karakteristik anak didik dan perkembangan
peserta didiknya baik dari domain kognitif, afektif maupun psikomotorik.
B. Prinsip-Prinsip Penilaian
Kata
prinsip berasal dari bahasa latin yang berarti dasar (pendirian, tindakan atau
sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama.[8]
Secara istilah Prinsip merupakan
landasan atau dasar pola berpikir dan bertindak.[9]
Prinsip penilaian menbutuhkan proses yang tersusun secara tersistematis mulai dari
pengumpulan data, menginterpretasi dan menggunakan informasi dan membuat
keputusan dalam menyimpulkan penilaian.
Prinsip
sebagai pola berpikir dan bertindak dapat dideskripsikan beberapa
prinsip-prinsip penilaian yaitu terdiri dari Validitas (validity),
realibitas (realibity), dan kewajaran (fairnes).
1) Validitas (validity(
Validitas
berasal dari kata Validity
yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen
pengukur dalam melalukan fungsi ukurnya.[10]
Suatu tes memiliki validitas yang tinggi apabila alat pengukuran (tes) dapat
membuktikan kebenaran suatu hasil ukur, hal ini tercermin dari hasil yang
diperoleh dari pengukuran, sebaliknya suatu tes memiliki validitas yang rendah
apabila hasil ukur atau besaran yang
mencerminkan tidak sesuai dengan tujuan dan hasil ukur.
Validitas
tes pada dasarnya menunjuk kepada derajat fungsi pengukurannya suatu tes. [11]artinya
tingkat validitas tes sangat berpengaruh terhadap kebenarannya yaitu
seberapa jauh tolak ukur penilaian
melalui butir tes dan hasil yang diperoleh. Validitas berkenaan dengan
ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul
menilai apa yang dinilai.[12]
Hasil dari validitas suatu tes dapat mengukur tingkat validitas valid
atau tidak valid tergantung pada pengukurannya, shahih atau tidak
shahihnya sebuah alat instrumen pencapaian hasil belaja sesuai dengan hasil
pengukurannaya. Apabila hasil yang diperoleh sesuai maka validitas dpat
dikatakan valid atau shahih dan sebaliknya hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai atau standar penilaian maka validitas butir
soal dikatakan tidak valid atau tidak
shahih. Dalam kutipan buku Encylopedia of Educational Evaluation yang
dikrang oleh Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan disebutkan A test is Valid if it measure what it purpose
to measure atau pengertiannya kurang
lebih “ sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang
hendak diukur” dalam bahasa inonesia Valid disebut dengan istilah sahih. Penentuan sahih tidaknya suatu alat instrumen
bukan ditentukan oleh instrumen itu sendiri tetapi ditentukan dari hasil
pengetesan atau skor yang diperoleh dari alat instrumen.[13]
Berdasarkan tiga definisi yang diberikan diatas, terdapat
tiga aspek yang perlu dievaluasi validitasnya yakni akurasi alat penilaian,
pengukuran pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berwujud kinerja dan
konsekuensinya pada skor.[14]
Keberhasilan
tingkat validitas dipengaruhi oleh kondisi peserta didik baik itu pengaruh internal
maupun eksternal dan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar. dibutuhkan
keterampilan dalam kelas dalam mendesain model-model pembelajaran, model-model
desain, serta menggunakan pendekatan psikologi, sosiologis dan pendekatan
agama. Mencapai tujuan pembelajaran dari aspek kognitif, afektif dan
psikomtorik tidaklah mudah seperti kita bayangkan akan tetapi guru harus
menguasai kelas, menguasai metode dan perencanaan, berwawasan luas serta
beretika selain itu juga memerlukan kesabaran. Skor yang rendah kemungkinan
besar akan mempengaruhi kepercayaan peserta didik, prestasi dan motivasinya
termasuk dari hasil kinerjanya yang menurun dan pengembangan kurikulum yang
terbatas.
Efek
negatif dari penilaian mungkin termasuk kurikulum yang terbatas dengan apa yang
dapat dinilai, komunikasi tentang kekuasaan, kontrol dan status sosial yang
tidak diinginkan dan gambaran sempit tentang hakikat bidang-bidang tertentu
termasuk akurasi penilaian.[15]
2) Reliabilitas (Reability)
Realibitas
berasal dari kata realibity berarati sejauh mana hasil suatu pengukuran
dapat dipercaya. Suatu hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa
kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama, diperoleh hasil
pengukuran yang relatif sama. Selama aspek yang diukur dalam diri subyek tidak
berubah.[16]
Realibitas merupakan suatu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran baik.[17]
Hakikat
realibitas instrumen berhubungan dengan masalah konsistensi. Maksudnya suatu
instrumen dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika hasil
skor yang diperolah tetap dan tidak berubah-ubah, jika skor yang diperoleh
berubah-ubah maka hasil yang diperoleh tidak berarti. Perbedaan antara
validitas dengan realibitas yaitu realibitas mengarah konsistensi skor dan
validitas pengujian hasil skorn untuk mengetahui valid atau tidaknya butir
tes.Realibilitas atau biasa disebut keandalan menekankan keajegan suatu hasil
skor yang diperoleh.
Keandalan
sangat ditentukan oleh estimasi jumlah kesalahan yang mengikuti skor yang
diperoleh. Artinya jika margin kesalahannya kecil, maka keandalannya tinggi.
Sebaliknya jika margim kesalahannya besar maka tingkat realibitasnya rendah.[18]
tingkat realibitas dipengaruhi oleh skor yang dihasilkan. Realibitas adalah
proses untuk menguji seberapa jauh perekembangan intelektual, psikomotorik, dan
afektif. Gambaran hasil yang diperoleh atau skor yang didapatkan peserta didik
membpermudah guru untuk mengulangi pelajaran yang sulit dipahami dan
mempermantap supaya tujuan dari pembelajaran tercapai. Selain itu pendidik
mampu mendefinisikan bakat-bakat yang dimiliki oleh peserta didik dan adapun
hambatan-hambatan dalam proses mengajar dapat diatasi dengan cara observasi
contohnya ketika peserta didik mengalami
fisik yang lemah dikarenakan sakit sebaiknya agar disarankan untuk istirahat
dan peserta didik yang nakal diberikan perhatian yang lebih besar untuk
mengeahui kronologis dari kenakalannya. Hambatan-hambatan yang menganggu proses
belajar mengajar akan mempengaruhi ketika mendapat ujian ketuntasan pencapaian
hasil bvelajar.
3) Kewajaran
Batas
kewajaran penilaian artinya tidak bias, tidak berat sebelah atau tidak adil.
Suatu penilaian seharusnya bebas dari bias gender, ras, status ekonomi atau
karakteristik lainnya.[19]Kewajaran
penilaian tidak memandang status sosial, laki-laki atau perampuan, kaya atau
miskin, berdarah biru atau masyarakat jelatah semua memiliki hak yang sama
untuk mendapatkan prestasi, kepopuleran, mendapatkan ilmu pegetahuan dan
keterampilan.
C. Pengertian Instrumen Penilaian
Secara umum yang dimaksud instrumen adalah suatu alat yang memenuhi
persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur
suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Dalam bidang penelitian, instrumen diartikan sebagai
alat untuk mengumpulkan data mengenai variabel-variabel penelitian untuk
kebutuhan penelitian, sementara dalam bidang pendidikan instrumen digunakan
untuk mengukur prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga mempunyai
hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar
siswa, keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian
suatu program tertentu[20].Sedangkan
menurut Permendikbud No. 104 Tahun 2014, instrumen penilaian adalah alat yang
digunakan untuk menilai capaian pembelajaran peserta didik, misalnya: tes, dan
skala sikap.[21]
Pengertian lainnya menjelaskan, bahwa
instrumen adalah alat ukur yang
digunakan untuk mengumpulkan data, dapat berupa tes atau nontes. Tes atau
penilaian merupakan alat ukur pengumpulan data yang mendorong peserta
memberikan penampilan maksimal. Sedangkan Instrumen non-tes merupakan alat ukur
yang mendorong peserta didik untuk memberikan penampilan tipikal, yaitu
melaporkan keadaan dirinya dengan memberikan respons secara jujur sesuai dengan
pikiran dan perasaannya.[22]
Jenis-Jenis Instrumen Penilaian
Dalam pendidikan terdapat bermacam-macam instrumen penilaian yang dapat
dipergunakan untuk mengukur dan menilai proses dan hasil pembelajaran yang
telah dilakukan terhadap peserta didik.
Instrumen tersebut terdapat dua bagian, yaitu; tes dan nontes. Yang
termasuk kelompok tes adalah tes prestasi belajar, tes intelegensi, tes bakat,
dan tes kemampuan akademik. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok non-tes
adalah skala sikap, skala penilaian, pedoman observasi, pedoman wawancara,
angket, pemeriksaan dokumen dan sebagainya. Instrumen yang berbentuk tes
bersifat performansi maksimum sedang instrumen non-tes bersifat performansi
tipikal.
Untuk memperjelas instrumen penilaian tersebut, mari kita bahas lebih
lanjut pemaparan berikut ini:
Tes sebagai instrumen penilaian
Tes sebagai instrumen penilaian adalah pertanyaan – pertanyaan yang
diberikan pada peserta didik untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk
lisan (tes lisan), dalam bentuk tulis (tes tulis), dan dalam bentuk perbuatan
(tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil
belajar peserta didik, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan
bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidkan dan pengajaran.
Ada dua jenis tes, yakni: tes uraian (subjektif) dan tes objektif. Tes
uraian terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian terstruktur.
Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk pilihan benar
salah, pilihan ganda dengan banyak variasi, menjodohkan, dan isian pendek atau
melengkapi.
Tes Uraian (Tes Subjektif)
Tes Uraian yang dalam uraian disebut juga essay, merupakan instrumen
penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini adalah
pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab dalam bentuk menguraikan,
menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain
yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan
bahasa sendiri.
Sejak tahun 1960-an bentuk tes ini banyak ditinggalkan orang karena
munculnya tes objektif. Bahkan sampai saat ini tes objektif sangat populer dan
digunakan oleh hampir semua guru atau dosen mulai dari tingkat dasar hingga
perguruan tinggi. Namun ada semacam kecenderungan dikalangan para pendidik
untuk kembali menggunakan tes uraian sebagai alat penilaian hasil belajar,
terutama di perguruan tinggi.
Bentuk tes uraian dibedakan menjadi tiga, yaitu: uraian bebas, uraian terbatas
dan uraian berstruktur.
Uraian Bebas (Extended Respons Items)
Dalam uraian bebas jawaban peserta didik tidak dibatasi, bergantung pada
pandangan peserta didik itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan
uraian bebas sifatnya umum.
Uraian Terbatas (Restricted Respons Items)
Bentuk kedua dari tes uraian adalah tes uraian terbatas. Dalam bentuk ini
pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan
tertentu.
Uraian Berstruktur
Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan
soal-soal essay. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat
sekalipun bersifat terbuka dan bebas memberikan jawaban.
Tes Objektif
Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item)
karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Tes
objektif terdiri dari beberapa bentuk, antara lain:
Pilihan Ganda(Multiple Choice)
Soal tes bentuk pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar
yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi. Pilihan jawaban (option) terdiri atas jawaban yang benar atau paling
benar, selanjutnya disebut kunci jawaban dan kemungkinan jawaban salah yang
dinamakan pengecoh (distractor/decoy/fails).
Benar-Salah (True-False, or Yes-No)
Bentuk tes benar-salah (B-S) adalah pernyataan yang mengandung dua
kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah. Salah satu fungsi bentuk soal
benar-salah adalah untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membedakan
antara fakta dengan pendapat. Bentuk soal seperti ini lebih banyak digunakan
unyuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang
sederhana.
Menjodohkan(Matching)
Soal tes bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban
yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom berbeda, yaitu kolom sebelah kiri
menunjukkan kumpulan persoalan, dan kolom sebelah kanan menunjukkan kumpulan
jawaban. Bentuk soal seperti ini sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta
didik dalam mengidentifikasi hubungan antara dua hal.
Melengkapi(Completion)
Soal bentuk melengkapi (completion) dikemukakan dalam kalimat yang tidak
lengkap.[23]
Tes Lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya
jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.
Tes Perbuatan
Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan
atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk
kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan
persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya.
Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format
pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat
menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan.
Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang
sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Untuk
tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang
sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.[24]
Non-tes sebagai instrumen penilaian
Instrumen non-tes sangat penting dalam mengevaluasi peserta didik pada
ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan instrumen tes yang lebih
menekankan aspek kognitif. Ada beberapa macam instrumen non-tes, yakni:
pengamatan (observation), wawancara (interview), kuesioner atau angket
(quetionaire).
Berikut ini penjelasan instrumen penilaian non-tes:
Observasi
Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis,
logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena untuk mencapai tujuan
tertentu. Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai
proses dan hasil belajar peserta didik, seperti tingkah laku peserta didik pada
waktu belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Instrumen yang
digunakan untuk melakukan observasi disebut pedoman observasi.[25]
Ada tiga
jenis observasi, yakni:
Ø Observasi Lagsung, adalah pengamatan yang
dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang
sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
Ø Observasi tidak langsung, adalah observasi
yang dilakasanakan dengan menggunakan alat seperti mikroskop utuk mengamati
bakteri, suryakanta untuk melihat pori-pori kulit.
Ø Observasi partisipasi, adalah observasi
yang dilaksanakan dengan cara pengamat harus melibatkan diri atau ikut serta
dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati,
sehingga pengamat bisa lebih menghayati, merasakan dan mengalami sendiri
seperti inddividu yang sedang diamatinya.
Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk instrumen evaluasi jenis non-tes yang
dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Melalui wawancara, data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan
kuantitatif. Pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi,
begitupun dengan jawaban yang belum jelas. Ada dua jenis wawancara, yakni:
wawancara terstruktur dan wawanncara bebas.
Angket
Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang
akan diukur (responden). Angket adalah instrumen penilaian hasil belajar yang
berupa daftar pertanyaan tertulis untuk menjaring informasi tentang sesuatu,
misalnya tentang latar belakang keluarga peserta didik, kesehatan peserta
didik, tanggapan peserta didik terhadap metode pembelajaran, media, dan lain-
lain. Angket umumnya dipergunakan pada ranah afektif.
Daftar Cek
Daftar cek adalah deretan pertanyaan singkat dimana responden yang
dievaluasi tinggal membubukan tanda centang (√) pada aspek yang diamati sesuai
dengan hasil penilaiannya.[26]
Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang
dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya mempelajari secara khusus anak
nakal, anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal
dalam belajar, dan lain- lain.
Kasus tersebut dipelajari secara mendalam dan dalam kurun waktu yang cukup
lama. Mendalam artinya mengungkapkan semua variabel yang menyebabkan terjadinya
kasus tersebut dari berbagai aspek yang mempengaruhi dirinya. Penekanan yang
utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melalukan apa yang dilakukannya
dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap
lingkungan. Datanya bisa diperoleh dari berbagai sumber, seperti; orang tua,
teman dekatnya, guru, bahkan juga dari dirinya.
Portofolio
Portofolio berasal dari bahasa Inggris “portfolio” yang berarti dokumen
atau surat-surat. Penilaian portofolio (portfolio assesment) merupakan salah
satu bentuk “performance assesment”. Portofolio (portfolio) adalah kumpulan
hasil tugas/tes atau hasil karya peserta ddik yang dikaitkan dengan standar
atau kriteria yang telah ditentukan. Dengan kata lain, model penilaian yang
bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membangun dan merefleksi
suatu pekerjaan/tugas atau karya melalui
pengumpulan (collection) hasil karya peserta didik yang sistematis dalam satu
periode.[27]
Prinsip dalam penilaian portofolio (portfolio assesment) adalah dokumen
atau data hasil pekerjaan peserta didik, baik berupa pekerjaan rumah, tugas
atau tes tertulis seluruhnya digunakan untuk membuat inferensi kemampuan dan
perkembangan kemampuan peserta didik. Informasi ini juga digunakan untuk
menyusun strategi dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Berikut adalah contoh instrumen dan rubrik penilaian pada aspek pengetahuan
yang sering digunakan oleh para pendidik menurut penulis yang biasa lakukan.
LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS
(Bentuk Uraian)
Soal Tes
Uraian
1. .
2. .
3. .
4. .
5. .
Kunci Jawaban Soal Uraian dan Pedoman Penskoran
|
Alternatif
jawaban
|
Penyelesaian
|
Skor
|
|
1
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
3
|
|
2
|
|
4
|
|
2
|
|
5
|
|
2
|
|
|
Jumlah
|
10
|
Nilai
= 
|
Penilaian
Pengetahuan - Tes Tulis Uraian
|
||||||||||||
|
Topik : ………………….
Indikator : …………………..
Soal : ………………….
a.
………………….
b.
………………….
Jawaban
:
a. …………………
Pedoman
Penskoran
|
||||||||||||
LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN -TERTULIS
(Pilihan Ganda)
Pilih
Satu Jawaban yang paling tepat !
1.
a.
b.
c.
d.
e.
dst.
Kunci Jawaban Piliahan Ganda dan Pedoman Penskoran
|
Alternatif Jawaban
|
Penyelesaian
|
Skor
|
|
1
|
|
1
|
|
2
|
|
1
|
|
3
|
|
1
|
|
4
|
|
1
|
|
....
|
|
1
|
|
20
|
|
1
|
|
|
Jumlah
|
20
|
Nilai
= 
|
Penilaian
Pengetahuan - Tes Tulis Pilihan Ganda
|
|
Topik : ………………….
Indikator : …………………..
Soal : ………………….
Jawaban
:
a.
…………………
|
LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN (ANALISIS)- TES
TERTULIS
|
NO
|
NAMA
|
PILIHAN GANDA
|
ESSAY
|
SKOR
|
NILAI
|
||||||||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
PG
|
E
|
|||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN
Observasi terhadap Diskusi Tanya Jawab dan
Percakapan
KELAS :
. ……………..
|
No
|
Nama Peserta Didik
|
Pernyataan
|
|||||||
|
Pengungkapan
gagasan
yang
orisinil
|
Kebenaran
Konsep
|
Ketepatan
penggunaan istilah
|
Dan lain
sebaginya
|
||||||
|
Ya
|
Tidak
|
Ya
|
Tidak
|
Ya
|
Tidak
|
Ya
|
Tidak
|
||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penilaian
pengetahuan - Observasi Terhadap Diskusi, Tanya Jawab dan Percakapan
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN
PENILAIAN PENUGASAN
|
Penilaian Pengetahuan – Penugasan
|
|
Mengidentifikasi
…………………….
Tugas : Menyusun
laporan hasil percobaan tentang cara kerja …………………….secara tertulis dengan
berbagai media.
Indikator
: membuat
laporan hasil percobaan cara kerja …………………….
Langkah
Tugas :
1. Lakukan observasi ke pasar atau tempat lainnya untuk mendapatkan
informasi mengenai …………………….
2. Datalah yang kamu dapatkan dalam bentuk tabel yang berisi …………………….,
……………………..
3. Diskusikan hasil observasi yang kamu lakukan beersama teman-temanmu
untuk menjawab pertanyaan berikut:
a. Jenis …………………….apa yang paling banyak kamu temukan dipasaran?
b. Bagaimana yang terjadi?
c. Keuntungan apa yang diperoleh dalam kehidupan?
4. Tuliskan hasil kegiatannmu dalam bentuk laporan dan dikumpulkan serta dipresentasikan
pada kegiatan pembelajaran berikutnya
|
Rubrik Penilaian
|
No.
|
Kriteria
|
Kelompok
|
||||||||
|
9
|
8
|
7
|
6
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
||
|
1
|
Kesesuaian dengan konsep dan prinsip bidang studi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Ketepatan memilih bahan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Kreativitas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Ketepatan waktu
pengumpulan tugas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Kerapihan hasil
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah skor
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan: 4
= sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup baik, 1 = kurang baik
NilaiPerolehan =
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Penilaian
merupakan adalah suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai informasi
secara sistematis, berkala, berkelanjutan dan menafsirkan berbagai informasi
secara sistematis, berkala, berkelanjutan menyeluruh tentang proses dan hasil
dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak melalui
pembelajaran dan menginterpretasi informasi.
2.
Prinsip-prinsip penilaian yaitu terdiri dari Validitas
(validity), realibitas (realibity), dan kewajaran (fairnes)
hakikat validitas berhubungan dengan
sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang
dianggap orang seharusnya diukur oleh alat tersebut. Hakikat realibitas
berhubungan dengan masalah kepercayaan maksudnya suatu instrumen dapat
dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika dapat memberikan hasil
yang tetap. Batas kwajaran yaitu tidak adanya batasan penilaian baik status
sosial, jenis kelamin, ras maupun budaya, penilaian harus adil dan sewajarnya
sesuai dengan realitas nilai.
3.
Instrumen penilaian pada aspek pengetahuan lebih ditekankan pada
seberapa besar pemahaman peserta didik dalam menjelaskan, mengurutkan,
menyebutkan, mendeskripsikan terhadap materi yang diajarkan sehingga apa yang
sudah dipelajari okleh peserta didik dan diberikan pemahaman oleh guru dengan
menggunakan model serta alat media tertentu bisa mendapatkan hasil yang baik
dan memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyorini. Evaluasi
Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pedidikan. 2009. Yogyakarta: Teras. : 65
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip
Desain Pembelajaran (Cet. 4; Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama, 2016), :
176.
Nasution dan Asmawi Zainul, Penilaian
Hasil Belajar (Jakarta: PAU-PPAI-UT, 2005), : 5
Masyhuri dan Zainuddin, Metodologi
Penelitian (Cet. 3; Bandung: PT.
Refika Aditama, 2011), : 19
Wina sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran
(Cet. 7; Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), : 244
Murray Print, curriculum Develpopment and Design (Australia:
Allen danUnwin, 1993), : 60.
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip
Desain Pembelajaran, : 180.
Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia
Teori dan pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1987), : 173.
H. Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran (Cet. 4;
jakarta: Kharisma Putra Utama, 2014), :
61.
Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya (Liberty: Yogyakarta, 1988), : 173.
Https:/Matondang.Jurnal Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf,
diakses pada tanggal 26/03/2020).
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), : 12.
Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Cet. 9; Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), : 103
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 183.
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 184.
Https:/Matondang.Jurnal Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf,
diakses pada tanggal 26/03/2020
Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia
Teori dan pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), : 176
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip
Desain Pembelajaran, : 182.
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain
Pembelajaran, :184.
Daryanto. 2012. Penyusunan Instrumen Peneilaian
Permendikbud.
2014. Pedoman Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar &
Pendidikan Menengah. Jakarta: Permendikbud No. 104.
Azwar, Saifuddin. 1997. Tes Prestasi.
Yogyakarta
Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011 : 117-138
Thamrin, AG. 2009. Penilaian Berbasis
Kompetensi
Arsad Bendungan. 2011. Teknik Penilaian Proses
dan Hasil Belajar.
Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011.
Arnie Fajar. Portofolio Dalam Pelajaran
IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004 : 47
[1] Sulistyorini. Evaluasi
Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pedidikan. 2009. Yogyakarta: Teras. : 65
[2] Muhammad
Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran (Cet. 4; Jakarta: PT.
Kharisma Putra Utama, 2016), : 176.
[3] Nasution dan
Asmawi Zainul, Penilaian Hasil Belajar (Jakarta: PAU-PPAI-UT, 2005), : 5
[4] Masyhuri dan
Zainuddin, Metodologi Penelitian (Cet. 3; Bandung: PT. Refika Aditama,
2011), : 19
[5] Wina sanjaya, Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran (Cet. 7; Jakarta: Prenadamedia Group, 2015),
: 244
[6] Murray Print, curriculum
Develpopment and Design (Australia: Allen danUnwin, 1993), : 60.
[7] Muhammad
Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 180.
[8] Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan pengukurannya (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1987), : 173.
[9] H. Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran
(Cet. 4; jakarta: Kharisma Putra Utama, 2014),
: 61.
[10] Syaifuddin
Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya (Liberty: Yogyakarta, 1988), : 173.
[11] Https:/Matondang.Jurnal
Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf, diakses pada tanggal 26/03/2020).
[12] Nana Sudjana, Penilaian
Hasil Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), : 12.
[13] Hamzah B. Uno,
Perencanaan Pembelajaran (Cet. 9; Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), : 103
[14] Muhammad
Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 183.
[15] Muhammad
Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 184.
[16] Https:/Matondang.Jurnal
Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf, diakses pada tanggal 26/03/2020
[17] Syaifuddin
Azwar, Sikap Manusia Teori dan pengukurannya
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), : 176
[18] Muhammad
Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 182.
[19] Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain
Pembelajaran, :184.
[20] Daryanto. 2012. Penyusunan Instrumen Peneilaian
[21] Permendikbud.
2014. Pedoman Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar &
Pendidikan Menengah. Jakarta: Permendikbud No. 104.
[22] Azwar, Saifuddin. 1997. Tes Prestasi. Yogyakarta
[23] Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011 : 117-138
[24] Thamrin, AG. 2009. Penilaian Berbasis Kompetensi
[25] Arsad Bendungan. 2011. Teknik Penilaian Proses dan Hasil
Belajar.
[26] Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011.
[27] Arnie Fajar. Portofolio Dalam Pelajaran IPS. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya. 2004 : 47
Tidak ada komentar:
Posting Komentar