Kamis, 09 April 2020

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN KOMPETENSI PENGETAHUAN


MAKALAH
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN KOMPETENSI PENGETAHUAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Evaluasi Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah
Yang dibimbing oleh :
Dr. Hj. ST MISLIKHAH, M.Ag





Oleh
MUHAMMAD DLABITH
NIM. 0849419006

PROGRAM STUDI PEDIDIKAN PENDIDIK MADRASAH IBTIDAIYAH
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER

Maret, 2020

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji Syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayahnya serta atas segala kuasa dan perlindungan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah ini dengan baik walaupun tidak bisa maksimal dan seperti yang diharapkan.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung  Muhammad SAW, yang mana telah menerangi kita dari zaman penuh kegelapan menuju pada zaman yang terang benderang yakni ad-Dienul Islam serta menjadi teladan kita sepanjang zaman dan limpahan rahmat kepada para Shahabat dan para kerabat Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah yang dibimbing oleh Dr. Hj. ST Mislikhah, M.Ag. Penulis mengambil kajian tentang Pengembangan Instrumen Asesmen Kompetensi Pengetahuan yang dikembangkan oleh beberapa ilmuan sehingga nantinya penulis dapat memberikan gambaran tentang kajian tersebut kepada para pembaca makalah ini.
Penulis menyadari atas keterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak mustahil apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam isi dan metode penulisan yang digunakan. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                  Jember, 27 Maret 2020

                                                                                  Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Ada 3 faktor yang perlu dipahami oleh seorang pendidik dalam proses pembelajaran. Tiga faktor ini adalah evaluasi, cara belajar, dan tujuan pembelajaran.[1] Evaluasi harus dilakukan secara teratur dan terus menerus supaya dapat menggambarkan kemampuan para peserta didik yang dievaluasi. Kesalahan utama yang sering terjadi di antara para pendidik adalah bahwa evaluasi hanya dilakukan pada saat tertentu. Dalam pengembangan intruksional, evaluasi hendaknya dilakukan setiap hari dengan jadwal yang sudah direncanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, baik secara terstruktur dan tidak terstruktur.
Dalam evaluasi, fungsi instrumen (alat) adalah untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai kenyataan. Alat evaluasi akan dianggap baik apabila mampu mengevaluasi obyek dengan hasil seperti keadaan yang sesungguhnya (apa adanya). Dalam hal ini sangat dipentingkan peran seorang pendidik yang kreatif dan tidak malas untuk memperoleh hasil tersebut. Bentuk instrumen yang akan dipakai dalam mengevaluasi juga sangat berpengaruh atas keberhasilan proses belajar mengajar.
Seorang pendidik perlu memahami metode dan instrumen evaluasi supaya memperoleh informasi yang diperlukan. Dari pemahaman bermacam-macam metode dan instrumen evaluasi tersebut, kemudian dipilih yang paling tepat untuk diterapkan kepada peserta didik. Di sini penulis akan membahas mengenai pengembangan instrumen asesmen pada kompetensi pengetahuan.
        Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari berbagai perubahan baik dari sikap (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (KI3) dan keterampilan (KI4) yang dicapai peserta didik. Pada dasarnya hasil belajar siswa dapat dinyatakan dalam 4 Kompetensi Inti yaitu Kompetensi Inti (KI 1) yang meliputi kemampuan bidang spiritual, Kompetensi Inti (KI 2) yang meliputi kemampuan bidang sikap, Kompetensi Inti (KI 3) yang  meliputi kemampuan bidang  pengetahuan dan Kompetensi Inti (KI 4) yang meliputi kemampuan bidang ketrampilan. Keempat Komptensi Inti tersebut saling terkait, dan pasti terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Namun, kebutuhan dari masing-masing kompetensi tersebut sangat variatif sehingga karateristik mata pelajaran atau tema yang diajarkan juga sangat berpengaruh dalam hal pemahaman kepada peserta didik.
Dengan demikian tugas utama para pendidik tidak hanya sebagai seseorang yang bisa membuat peserta didik menjadi orang yang terpelajar dengan kepandaiannya namun diharapkan juga dapat menjadi suri tauladan untuk bidang spriritual dan sosialnya. Maka dalam hal ini terjadilah keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi.

B.       Rumusan Masalah
Dalam hal ini penulis merumuskan beberapa masalah yang timbul yaitu :
A.    Bagaiman Definisi penilaian (assesmen)?
B.     Bagaimana Prinsip-prinsip penilaian?
C.     Bagaimana Implementasi Instrumen Penilaian pada aspek pengetahuan?

C.      Tujuan
A.    Dapat menjelaskan tentang definisi penilaian (assesmen)
B.     Dapat menjelaskan prinsip-prinsip penilaian (assesmen)
C.     Dapat mengetahui implementasi instrumen penilaian (assesmen) pada aspek pengetahuan





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Penilaian
            Penilaian merupakan adalah suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan dan menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak melalui pembelajaran dan menginterpretasi informasi tersebut membuat keputusan,  penilaian merupakan bagian integral yang sering digunakan dengan hubungannya dengan penilaian yakni pengukuran, dan evaluasi.[2]
            Pengukuran adalah proses sistetmatis tentang nilai-nilai numerik atau angka untuk suatu sifat atau atribut pada orang atau objek melalui kegiatan pengukuran misalnya mengukur tinggi dari suatu gedung, berat dari daging, mengukur panjang lebar.[3] Pengukuran berkaitan erat dengan penelitian kuantitatif, alat ukurnya dengan angka-angka dan perhitungan dengan statistik. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang mementingkan kedalaman data, penelitin kuantitatif tidak terlalu menitikberatkan pada kedalaman data dan populasi penelitian dapat dianalisis oleh peran statistik.[4]
            Evaluasi merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan, pelaksanaan evaluasi memerlukan sebuah tindakan untuk memperoleh nilai dan hasil dari pengukuran. Evaluasi alat yang penting untuk mendapatkan informasi tentang efektivitas pembelajaran yang dilakukan, alat untuk mengetahui ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan, evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum.[5] Tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan, ekonomi maupun dalam bidang lainnya evaluasi merupakan kegiatan akhit dari sebuah proses kegiatan. Penilaian (asesment), pengukuran (Measurement), dan evaluasi (evaluation) adalah tiga bagian dari proses untuk mengetahui  keberhasilan suatu kegiatan belajar-mengajar. Penilaian adalah tahap awal dari proses pencapaian, setelah itu langkah kedua yaitu dengan pengukuran berupa tes tertulis dan wawancara. Tes tertulis adalah serangkaian kalimat yang disusun dalam bentuk pertanyaan sedangkan wawancara yaitu tes lisan baik langsung maupun tidak langsung  yang terdiri dari beberapa pertanyaan berdasarkan tujuan dari suatu kegiatan. Tahap  selanjutnya adalah evaluasi, melalui penilaian, pengukuran sesorang dapat meyimpulkan hasil dari tujuan dari pencapaian pendidikan.
            Assesment  adalah bagian dari evaluasi yang lebih luas dari sekadar pengukuran. Assesment is broadaer in scope than measurement in that it involves the interpretation and representation of measurement data.[6] Penilaian adalah proses pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan dengan sengaja di dalam ruang kelas untuk mengetahui hasil dari kemajuan monitoring secara terus menerus sebagai bagian dari penilaian.[7] Penilaian alat pengukuran untuk memperoleh informasi dan data dari perkembangan terhadap hasil proses belajar mengajar sehingga pendidik dapat mengatur strategi dan metode yang cocok belajar dalam ruang kelas maupun belajar diluar kelas. Penilaian mampu membaca karakteristik anak didik dan perkembangan peserta didiknya baik dari domain kognitif, afektif maupun psikomotorik.
B.       Prinsip-Prinsip Penilaian
            Kata prinsip berasal dari bahasa latin yang berarti dasar (pendirian, tindakan atau sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama.[8]  Secara istilah Prinsip merupakan landasan atau dasar pola berpikir dan bertindak.[9] Prinsip penilaian menbutuhkan proses yang tersusun secara tersistematis mulai dari pengumpulan data, menginterpretasi dan menggunakan informasi dan membuat keputusan dalam menyimpulkan penilaian.
            Prinsip sebagai pola berpikir dan bertindak dapat dideskripsikan beberapa prinsip-prinsip penilaian yaitu terdiri dari Validitas (validity), realibitas (realibity), dan kewajaran (fairnes).

1)      Validitas  (validity(
            Validitas  berasal dari kata  Validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur dalam melalukan fungsi ukurnya.[10] Suatu tes memiliki validitas yang tinggi apabila alat pengukuran (tes) dapat membuktikan kebenaran suatu hasil ukur, hal ini tercermin dari hasil yang diperoleh dari pengukuran, sebaliknya suatu tes memiliki validitas yang rendah apabila hasil ukur  atau besaran yang mencerminkan tidak sesuai dengan tujuan dan hasil ukur.
            Validitas tes pada dasarnya menunjuk kepada derajat fungsi pengukurannya suatu tes. [11]artinya tingkat validitas tes sangat berpengaruh terhadap kebenarannya yaitu seberapa  jauh tolak ukur penilaian melalui butir tes dan hasil yang diperoleh. Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang dinilai.[12] Hasil dari validitas suatu tes dapat mengukur tingkat validitas valid atau tidak valid tergantung pada pengukurannya, shahih atau tidak shahihnya sebuah alat instrumen pencapaian hasil belaja sesuai dengan hasil pengukurannaya. Apabila hasil yang diperoleh sesuai maka validitas dpat dikatakan valid atau shahih dan sebaliknya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai atau standar penilaian maka validitas butir soal dikatakan  tidak valid atau tidak shahih. Dalam kutipan buku Encylopedia of Educational Evaluation yang dikrang oleh Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan disebutkan  A test is Valid if it measure what it purpose to measure  atau pengertiannya kurang lebih “ sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur” dalam bahasa inonesia Valid disebut dengan istilah sahih.  Penentuan sahih tidaknya suatu alat instrumen bukan ditentukan oleh instrumen itu sendiri tetapi ditentukan dari hasil pengetesan atau skor yang diperoleh dari alat instrumen.[13]
            Berdasarkan  tiga definisi yang diberikan diatas, terdapat tiga aspek yang perlu dievaluasi validitasnya yakni akurasi alat penilaian, pengukuran pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berwujud kinerja dan konsekuensinya pada skor.[14]
            Keberhasilan tingkat validitas dipengaruhi oleh kondisi peserta didik baik itu pengaruh internal maupun eksternal dan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar. dibutuhkan keterampilan dalam kelas dalam mendesain model-model pembelajaran, model-model desain, serta menggunakan pendekatan psikologi, sosiologis dan pendekatan agama. Mencapai tujuan pembelajaran dari aspek kognitif, afektif dan psikomtorik tidaklah mudah seperti kita bayangkan akan tetapi guru harus menguasai kelas, menguasai metode dan perencanaan, berwawasan luas serta beretika selain itu juga memerlukan kesabaran. Skor yang rendah kemungkinan besar akan mempengaruhi kepercayaan peserta didik, prestasi dan motivasinya termasuk dari hasil kinerjanya yang menurun dan pengembangan kurikulum yang terbatas.
            Efek negatif dari penilaian mungkin termasuk kurikulum yang terbatas dengan apa yang dapat dinilai, komunikasi tentang kekuasaan, kontrol dan status sosial yang tidak diinginkan dan gambaran sempit tentang hakikat bidang-bidang tertentu termasuk akurasi penilaian.[15]

2)      Reliabilitas (Reability)
            Realibitas berasal dari kata realibity berarati sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama, diperoleh hasil pengukuran yang relatif sama. Selama aspek yang diukur dalam diri subyek tidak berubah.[16] Realibitas merupakan suatu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran baik.[17]
            Hakikat realibitas instrumen berhubungan dengan masalah konsistensi. Maksudnya suatu instrumen dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika hasil skor yang diperolah tetap dan tidak berubah-ubah, jika skor yang diperoleh berubah-ubah maka hasil yang diperoleh tidak berarti. Perbedaan antara validitas dengan realibitas yaitu realibitas mengarah konsistensi skor dan validitas pengujian hasil skorn untuk mengetahui valid atau tidaknya butir tes.Realibilitas atau biasa disebut keandalan menekankan keajegan suatu hasil skor yang diperoleh.
            Keandalan sangat ditentukan oleh estimasi jumlah kesalahan yang mengikuti skor yang diperoleh. Artinya jika margin kesalahannya kecil, maka keandalannya tinggi. Sebaliknya jika margim kesalahannya besar maka tingkat realibitasnya rendah.[18] tingkat realibitas dipengaruhi oleh skor yang dihasilkan. Realibitas adalah proses untuk menguji seberapa jauh perekembangan intelektual, psikomotorik, dan afektif. Gambaran hasil yang diperoleh atau skor yang didapatkan peserta didik membpermudah guru untuk mengulangi pelajaran yang sulit dipahami dan mempermantap supaya tujuan dari pembelajaran tercapai. Selain itu pendidik mampu mendefinisikan bakat-bakat yang dimiliki oleh peserta didik dan adapun hambatan-hambatan dalam proses mengajar dapat diatasi dengan cara observasi contohnya  ketika peserta didik mengalami fisik yang lemah dikarenakan sakit sebaiknya agar disarankan untuk istirahat dan peserta didik yang nakal diberikan perhatian yang lebih besar untuk mengeahui kronologis dari kenakalannya. Hambatan-hambatan yang menganggu proses belajar mengajar akan mempengaruhi ketika mendapat ujian ketuntasan pencapaian hasil bvelajar.
3)      Kewajaran
            Batas kewajaran penilaian artinya tidak bias, tidak berat sebelah atau tidak adil. Suatu penilaian seharusnya bebas dari bias gender, ras, status ekonomi atau karakteristik lainnya.[19]Kewajaran penilaian tidak memandang status sosial, laki-laki atau perampuan, kaya atau miskin, berdarah biru atau masyarakat jelatah semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan prestasi, kepopuleran, mendapatkan ilmu pegetahuan dan keterampilan.

C.      Pengertian Instrumen Penilaian
Secara umum yang dimaksud instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Dalam bidang penelitian, instrumen diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data mengenai variabel-variabel penelitian untuk kebutuhan penelitian, sementara dalam bidang pendidikan instrumen digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga mempunyai hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar siswa, keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian suatu program tertentu[20].Sedangkan menurut Permendikbud No. 104 Tahun 2014, instrumen penilaian adalah alat yang digunakan untuk menilai capaian pembelajaran peserta didik, misalnya: tes, dan skala sikap.[21]
Pengertian lainnya menjelaskan, bahwa instrumen adalah  alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data, dapat berupa tes atau nontes. Tes atau penilaian merupakan alat ukur pengumpulan data yang mendorong peserta memberikan penampilan maksimal. Sedangkan Instrumen non-tes merupakan alat ukur yang mendorong peserta didik untuk memberikan penampilan tipikal, yaitu melaporkan keadaan dirinya dengan memberikan respons secara jujur sesuai dengan pikiran dan perasaannya.[22]
Jenis-Jenis Instrumen Penilaian
Dalam pendidikan terdapat bermacam-macam instrumen penilaian yang dapat dipergunakan untuk mengukur dan menilai proses dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan terhadap peserta didik.
Instrumen tersebut terdapat dua bagian, yaitu; tes dan nontes. Yang termasuk kelompok tes adalah tes prestasi belajar, tes intelegensi, tes bakat, dan tes kemampuan akademik. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok non-tes adalah skala sikap, skala penilaian, pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, pemeriksaan dokumen dan sebagainya. Instrumen yang berbentuk tes bersifat performansi maksimum sedang instrumen non-tes bersifat performansi tipikal.
Untuk memperjelas instrumen penilaian tersebut, mari kita bahas lebih lanjut pemaparan berikut ini:
Tes sebagai instrumen penilaian
Tes sebagai instrumen penilaian adalah pertanyaan – pertanyaan yang diberikan pada peserta didik untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulis (tes tulis), dan dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar peserta didik, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidkan dan pengajaran.
Ada dua jenis tes, yakni: tes uraian (subjektif) dan tes objektif. Tes uraian terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian terstruktur. Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk pilihan benar salah, pilihan ganda dengan banyak variasi, menjodohkan, dan isian pendek atau melengkapi.
Tes Uraian (Tes Subjektif)
Tes Uraian yang dalam uraian disebut juga essay, merupakan instrumen penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri.
Sejak tahun 1960-an bentuk tes ini banyak ditinggalkan orang karena munculnya tes objektif. Bahkan sampai saat ini tes objektif sangat populer dan digunakan oleh hampir semua guru atau dosen mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Namun ada semacam kecenderungan dikalangan para pendidik untuk kembali menggunakan tes uraian sebagai alat penilaian hasil belajar, terutama di perguruan tinggi.
Bentuk tes uraian dibedakan menjadi tiga, yaitu: uraian bebas, uraian terbatas dan uraian berstruktur.

Uraian Bebas (Extended Respons Items)
Dalam uraian bebas jawaban peserta didik tidak dibatasi, bergantung pada pandangan peserta didik itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas sifatnya umum.
Uraian Terbatas (Restricted Respons Items)
Bentuk kedua dari tes uraian adalah tes uraian terbatas. Dalam bentuk ini pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu.
Uraian Berstruktur
Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan soal-soal essay. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan bebas memberikan jawaban.
Tes Objektif
Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, antara lain:
Pilihan Ganda(Multiple Choice)
Soal tes bentuk pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pilihan jawaban (option)  terdiri atas jawaban yang benar atau paling benar, selanjutnya disebut kunci jawaban dan kemungkinan jawaban salah yang dinamakan pengecoh (distractor/decoy/fails).
Benar-Salah (True-False, or Yes-No)
Bentuk tes benar-salah (B-S) adalah pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah. Salah satu fungsi bentuk soal benar-salah adalah untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membedakan antara fakta dengan pendapat. Bentuk soal seperti ini lebih banyak digunakan unyuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana.
Menjodohkan(Matching)
Soal tes bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom berbeda, yaitu kolom sebelah kiri menunjukkan kumpulan persoalan, dan kolom sebelah kanan menunjukkan kumpulan jawaban. Bentuk soal seperti ini sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi hubungan antara dua hal.
Melengkapi(Completion)
Soal bentuk melengkapi (completion) dikemukakan dalam kalimat yang tidak lengkap.[23]
Tes Lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.
Tes Perbuatan
Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya.
Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Untuk tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.[24]
Non-tes sebagai instrumen penilaian
Instrumen non-tes sangat penting dalam mengevaluasi peserta didik pada ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan instrumen tes yang lebih menekankan aspek kognitif. Ada beberapa macam instrumen non-tes, yakni: pengamatan (observation), wawancara (interview), kuesioner atau angket (quetionaire).

Berikut ini penjelasan instrumen penilaian non-tes:
Observasi
Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik, seperti tingkah laku peserta didik pada waktu belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Instrumen yang digunakan untuk melakukan observasi disebut pedoman observasi.[25]
Ada tiga jenis observasi, yakni:
Ø  Observasi Lagsung, adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
Ø  Observasi tidak langsung, adalah observasi yang dilakasanakan dengan menggunakan alat seperti mikroskop utuk mengamati bakteri, suryakanta untuk melihat pori-pori kulit.
Ø  Observasi partisipasi, adalah observasi yang dilaksanakan dengan cara pengamat harus melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati, sehingga pengamat bisa lebih menghayati, merasakan dan mengalami sendiri seperti inddividu yang sedang diamatinya.

Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk instrumen evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui wawancara, data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi, begitupun dengan jawaban yang belum jelas. Ada dua jenis wawancara, yakni: wawancara terstruktur dan wawanncara bebas.

Angket
Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Angket adalah instrumen penilaian hasil belajar yang berupa daftar pertanyaan tertulis untuk menjaring informasi tentang sesuatu, misalnya tentang latar belakang keluarga peserta didik, kesehatan peserta didik, tanggapan peserta didik terhadap metode pembelajaran, media, dan lain- lain. Angket umumnya dipergunakan pada ranah afektif.

Daftar Cek
Daftar cek adalah deretan pertanyaan singkat dimana responden yang dievaluasi tinggal membubukan tanda centang (√) pada aspek yang diamati sesuai dengan hasil penilaiannya.[26]

Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya mempelajari secara khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal dalam belajar, dan lain- lain.
Kasus tersebut dipelajari secara mendalam dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Mendalam artinya mengungkapkan semua variabel yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai aspek yang mempengaruhi dirinya. Penekanan yang utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melalukan apa yang dilakukannya dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Datanya bisa diperoleh dari berbagai sumber, seperti; orang tua, teman dekatnya, guru, bahkan juga dari dirinya.

Portofolio
Portofolio berasal dari bahasa Inggris “portfolio” yang berarti dokumen atau surat-surat. Penilaian portofolio (portfolio assesment) merupakan salah satu bentuk “performance assesment”. Portofolio (portfolio) adalah kumpulan hasil tugas/tes atau hasil karya peserta ddik yang dikaitkan dengan standar atau kriteria yang telah ditentukan. Dengan kata lain, model penilaian yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membangun dan merefleksi suatu pekerjaan/tugas atau karya  melalui pengumpulan (collection) hasil karya peserta didik yang sistematis dalam satu periode.[27]
Prinsip dalam penilaian portofolio (portfolio assesment) adalah dokumen atau data hasil pekerjaan peserta didik, baik berupa pekerjaan rumah, tugas atau tes tertulis seluruhnya digunakan untuk membuat inferensi kemampuan dan perkembangan kemampuan peserta didik. Informasi ini juga digunakan untuk menyusun strategi dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Berikut adalah contoh instrumen dan rubrik penilaian pada aspek pengetahuan yang sering digunakan oleh para pendidik menurut penulis yang biasa lakukan.



























LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS
(Bentuk Uraian)
Soal Tes Uraian
1.     .
2.     .
3.     .
4.     .
5.     .


Kunci Jawaban Soal Uraian dan Pedoman Penskoran
Alternatif jawaban
Penyelesaian
Skor
1

2
2

2
3

2
4

2
5

2

Jumlah
10


Nilai =


Penilaian Pengetahuan - Tes Tulis Uraian
Topik     : ………………….
Indikator : …………………..
Soal        : ………………….
a.       ………………….
b.       ………………….
Jawaban :
a.       …………………
  1. …………………

Pedoman Penskoran
No
Jawaban
Skor
a.


b.


Skor maksimal











LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN -TERTULIS
 (Pilihan Ganda)

Pilih Satu Jawaban yang paling tepat !
1.
a.
b.
c.
d.
e.
dst.

Kunci Jawaban Piliahan Ganda dan Pedoman Penskoran
Alternatif  Jawaban
Penyelesaian
Skor
1

1
2

1
3

1
4

1
....

1
20

1

Jumlah
20

Nilai =


Penilaian Pengetahuan - Tes Tulis Pilihan Ganda
Topik     : ………………….
Indikator : …………………..
Soal        : ………………….
Jawaban :
a.       …………………
  1. …………………
  2. …………………
  3. …………………
  4. …………………













LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN (ANALISIS)- TES TERTULIS

NO
NAMA
PILIHAN GANDA
ESSAY
SKOR
NILAI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
PG
E
1





























2





























3





























4





























5






























LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN
Observasi terhadap Diskusi Tanya Jawab dan Percakapan

KELAS : . ……………..
No
Nama Peserta Didik
Pernyataan
Pengungkapan
gagasan yang
orisinil
Kebenaran Konsep
Ketepatan penggunaan istilah
Dan lain sebaginya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
1









2









3










Penilaian pengetahuan - Observasi Terhadap Diskusi, Tanya Jawab dan Percakapan

Nama
Peserta
Didik
Pernyataan
Jumlah
Pengungkapan gagasan yang orisinil
Kebenaran konsep
Ketepatan penggunaan istilah
YA
TIDAK
YA
TIDAK
YA
TIDAK
YA
TIDAK
….








….








....


















LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN
PENILAIAN PENUGASAN

Penilaian Pengetahuan – Penugasan
Mengidentifikasi …………………….
Tugas        : Menyusun laporan hasil percobaan tentang cara kerja …………………….secara tertulis dengan berbagai media.
Indikator   :  membuat laporan hasil percobaan cara kerja …………………….

Langkah Tugas :
1.       Lakukan observasi ke pasar atau tempat lainnya untuk mendapatkan informasi mengenai …………………….
2.       Datalah yang kamu dapatkan dalam bentuk tabel yang berisi ……………………., ……………………..
3.       Diskusikan hasil observasi yang kamu lakukan beersama teman-temanmu untuk menjawab pertanyaan berikut:
a.       Jenis …………………….apa yang paling banyak kamu temukan dipasaran?
b.       Bagaimana yang terjadi?
c.       Keuntungan apa yang diperoleh dalam kehidupan?
4.       Tuliskan hasil kegiatannmu dalam bentuk laporan dan dikumpulkan serta dipresentasikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya



Rubrik Penilaian
No.
Kriteria
Kelompok
9
8
7
6
5
4
3
2
1
1
Kesesuaian dengan konsep dan prinsip bidang studi









2
Ketepatan memilih bahan









3
Kreativitas









4
Ketepatan waktu pengumpulan tugas









5
Kerapihan hasil










Jumlah skor










Keterangan: 4 = sangat baik,            3 = baik,           2 = cukup baik,             1 = kurang baik
NilaiPerolehan =







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Penilaian merupakan adalah suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan dan menafsirkan berbagai informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak melalui pembelajaran dan menginterpretasi informasi.
2.      Prinsip-prinsip penilaian yaitu terdiri dari Validitas (validity), realibitas (realibity), dan kewajaran (fairnes) hakikat  validitas berhubungan dengan sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang  dianggap orang seharusnya diukur oleh alat tersebut. Hakikat realibitas berhubungan dengan masalah kepercayaan maksudnya suatu instrumen dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika dapat memberikan hasil yang tetap. Batas kwajaran yaitu tidak adanya batasan penilaian baik status sosial, jenis kelamin, ras maupun budaya, penilaian harus adil dan sewajarnya sesuai dengan realitas nilai.
3.      Instrumen penilaian pada aspek pengetahuan lebih ditekankan pada seberapa besar pemahaman peserta didik dalam menjelaskan, mengurutkan, menyebutkan, mendeskripsikan terhadap materi yang diajarkan sehingga apa yang sudah dipelajari okleh peserta didik dan diberikan pemahaman oleh guru dengan menggunakan model serta alat media tertentu bisa mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan.






DAFTAR PUSTAKA


Sulistyorini. Evaluasi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pedidikan. 2009. Yogyakarta: Teras. : 65
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran (Cet. 4; Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama, 2016), : 176.
Nasution dan Asmawi Zainul, Penilaian Hasil Belajar (Jakarta: PAU-PPAI-UT, 2005), : 5
Masyhuri dan Zainuddin, Metodologi Penelitian  (Cet. 3; Bandung: PT. Refika Aditama, 2011),  : 19
Wina sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Cet. 7; Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), : 244
Murray Print, curriculum Develpopment and Design (Australia: Allen danUnwin, 1993), : 60.
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 180.
Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia  Teori dan pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1987), : 173.
H. Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran (Cet. 4; jakarta: Kharisma Putra Utama, 2014),  : 61.
Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya  (Liberty: Yogyakarta, 1988), : 173.
Https:/Matondang.Jurnal Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf, diakses pada tanggal 26/03/2020).
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), : 12.
Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Cet. 9; Jakarta:  PT. Bumi Aksara, 2012), : 103
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, :  183.
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 184.
Https:/Matondang.Jurnal Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf, diakses pada tanggal 26/03/2020
Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia  Teori dan pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), : 176
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 182.
 Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, :184.
Daryanto. 2012. Penyusunan Instrumen Peneilaian
Permendikbud. 2014. Pedoman Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar & Pendidikan Menengah. Jakarta: Permendikbud No. 104.
Azwar, Saifuddin. 1997. Tes Prestasi. Yogyakarta
Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011 : 117-138
Thamrin, AG. 2009. Penilaian Berbasis Kompetensi
Arsad Bendungan. 2011. Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar.
Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011.
Arnie Fajar.  Portofolio Dalam Pelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004  : 47



[1] Sulistyorini. Evaluasi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pedidikan. 2009. Yogyakarta: Teras. : 65
[2] Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran (Cet. 4; Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama, 2016), : 176.
[3] Nasution dan Asmawi Zainul, Penilaian Hasil Belajar (Jakarta: PAU-PPAI-UT, 2005), : 5
[4] Masyhuri dan Zainuddin, Metodologi Penelitian  (Cet. 3; Bandung: PT. Refika Aditama, 2011),  : 19
[5] Wina sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Cet. 7; Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), : 244
[6] Murray Print, curriculum Develpopment and Design (Australia: Allen danUnwin, 1993), : 60.
[7] Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 180.
[8]    Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia  Teori dan pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1987), : 173.
[9]    H. Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran (Cet. 4; jakarta: Kharisma Putra Utama, 2014),  : 61.
[10] Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya  (Liberty: Yogyakarta, 1988), : 173.
[11] Https:/Matondang.Jurnal Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf, diakses pada tanggal 26/03/2020).
[12] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), : 12.
[13] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Cet. 9; Jakarta:  PT. Bumi Aksara, 2012), : 103
[14] Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, :  183.
[15] Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 184.
[16] Https:/Matondang.Jurnal Tabularasa.2009.digilib.unimed. ac.id (Pdf, diakses pada tanggal 26/03/2020
[17] Syaifuddin Azwar, Sikap Manusia  Teori dan pengukurannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), : 176
[18] Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, : 182.
[19]  Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, :184.
[20] Daryanto. 2012. Penyusunan Instrumen Peneilaian
[21] Permendikbud. 2014. Pedoman Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar & Pendidikan Menengah. Jakarta: Permendikbud No. 104.
[22] Azwar, Saifuddin. 1997. Tes Prestasi. Yogyakarta
[23] Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011 : 117-138
[24] Thamrin, AG. 2009. Penilaian Berbasis Kompetensi
[25] Arsad Bendungan. 2011. Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar.
[26] Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011.
[27] Arnie Fajar.  Portofolio Dalam Pelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004  : 47

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik

MAKALAH Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Tematik...