Selasa, 14 April 2020

Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik


MAKALAH

Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengembangan Bahan Ajar Tematik Terpadu MI yang dibimbing oleh
Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I
Dr. Hj. Erma Fatmawati, M.Pd.I




Oleh:
Titin Mariatul Qiptiyah
NIM. 0849419007


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
MARET 2020

KATA PENGANTAR
Puji  syukur alhamdulillah, saya panjatkan ke Hadirat Allah SWT karena atas rahmat serta hidayahNya dan atas segala nikmat sempat dan sehat sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik walaupun sangat jauh dari kata sempurna.
Shalawat beserta salam-Nya semoga selalu terlimpahkan kepada Rasulullah SAW sebagai penutup para nabi dan rasul, yang dengan syafa’atnya penulis dapat menikmati agama sempurna yang selalu dalam ridla Allah SWT. amin.
Landasan dan karakteristik pembelajaran tematik yang didalamnya terdapat sebuah dasar filosofis, psikologis, dasar hukum dan kebajikan, rambu-rambu serta terdapat karakteristik tentang pembelajaran tematik sehingga hal ini menjadi sebuah pembeda antara muatan mata pelajaran yang terdahulu hingga muatan mata pelajaran saat ini.
Namun keterbatasan pengetahuan dan pengalaman maka kami menyadari bahwa makalah ini belum dikategorikan sempurna oleh karena itu perlu kritik dan saran pembeca untuk menjadikan makalah selanjutnya lebih baik lagi.

Jember, 5 Maret 2020
Penulis

Titin Mariatul Qiptiyah



DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.    Latar Belakang..................................................................................... 1
B.      Fokus masalah..................................................................................... 2
C.     Tujuan penulisan................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 3
A.    Dasar Filosofis ..................................................................................... 3
B.     Dasar Psikologis................................................................................... 6
C.     Dasar Hukum dan Kebajikan................................................................ 10
D.    Jenis Karakteristik Pembelajaran Tematik........................................... 11
E.     Rambu- rambu Pembelajaran Tematik.................................................
BAB III PENUTUP........................................................................................ 13
Kesimpulan..................................................................................................... 13
Daftar Pusataka.............................................................................................. 15



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Anak usia SD/MI menurut Piaget masih berada pada tahap berfikir operasional konkrit. Karena masih menggunakan berpikir operasional kongkrit maka anak harus membutuhkan alat bantu dalam mengembangkan pembelajarannya. Pada tahap berpikir dengan operasional kongkrit maka penerapan pendekatan pembelajaran terpadu (tematik) dipandang tepat dan sesuai sebagai model pembelajaran siswa di SD/MI, terutama di kelas awal.
Penerapan Kurikulum 2013, terutama pada jenjang pendidikan SD/MI memiliki tujuan khusus yakni untuk mempersiapkan generasi baru dan penerus bangsa yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga beriman, produktif, kreatif, inovatif dan efektif. Untuk itu perancang kurikulum 2013 perlu memperhatikan kebutuhan siswa saat ini dan masa akan mendatang yang berpengaruh pada globalisasi dan kemajemukan masyarakat Indonesia. 
Dalam hal ini perancang juga memiliki Landasan dan prinsip untuk membentuk atau merancang sebuah pembelajaran terpadu tentunya berkaitan dengan kebutuhan siswa. Dalam pengembangan bahan ajar dirancang sesederhana mungkin untuk memberikan kemudahan dalam menerima pembelajaran. Prinsip ini juga berkaitan dengan sosial kehidupan masyarakat dengan budaya yang terdapat disuatu daerah. Sedangkan yang diketaui saat ini bahwa pembelajaran terpadu bukan lagi sebuah pembelajaran yang sulit diterapkan oleh setiap guru dalam memberikan pengajarannya kepada peserta didik.
Oleh karena itu pembelajaran tematik terpadu sangat dirancang sederhana jika diterapkan dalam sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, dalam materi atau mata pelajaran yang dikembangkan memerlukan pendekatan terpadu sebagai acuan untuk membentuk suatu tema.
  1. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana dasar filosofis pembelajaran tematik terpadu?
2.      Bagaimana dasar psikologis pembelajaran tematik terpadu?
3.      Bagimana dasar hukum dan kebijakan pembelajaran tematik terpadu?
4.      Apa saja karakteristik pembelajaran tematik terpadu?
5.      Apa saja rambu-rambu pembelajaran tematik terpadu?
  1. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui dasar filosofis pembelajran tematik terpadu.
2.      Untuk mengetahui dasar psikologis pembelajran tematik terpadu.
3.      Untuk mengetahui dasar hukum dan kebijakan pembelajaran tematik terpadu.
4.      Untuk mengetahui apa saja karakteristik pembelajaran tematik terpadu.
5.      Untuk mengetahui apa saja rambu-rambu pembelajaran tematik terpadu.


BAB II
PEMBAHSAN
  1. Dasar Filosofis
Landasan dasar filosofis dalam pengembangan kurikulum sangat mempengaruhi kualitas  pembelajaran tematik kemunculan dipengaruhi oleh tiga aliran berikut: a) progresivisme, b) konstruktivisme, c) humanisme.[1] Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan  pada pembentukan kreativitas dengan pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah dan memerhatikan pengalaman siswa. Pada aliran ini dapat mengambil contoh pada kelas 1 tema 7 subtema 4, siswa diberikan kegiatan  dan sekaligus diajak untuk membentuk kreativitas, namun pada kreasi dibawah ini untuk siswa kelas 1 masih tergolong sulit jika dilihat dari segi bahan akan tetapi dapat digantikan kreasi yang lain seperti membuat kerajinan dari bahan plastisin.





Aliran konstruktivisme dalam pembelajaran tematik ialah berupaya melihat pengalaman siswa secara langsung sebagai kunci dalam pembelajaran. Mengacu pada aliran ini, pengetahuan dan keterampilan yang didapat oleh siswa mengontruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan sekitar. Dengan contoh dikelas 1 pada tema 7 subtema 2 tentang hewan disekitarku, dari judul subtema sudah dapat diketahui bahwa siswa diajak untuk berinteraksi secara langsung dengan objek atau pengalaman dilingkungan sekitar, siswa akan dapat mengontruksi pengetahuannya sesuai dengan apa yang ditemui dilingkungan sekitarnya seperti ciri-ciri hewan yang dipelihara, membedakan makanan hewan, dan bagaimana cara merawat hewan.   





Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan, karakteristik, potensi. Pandangan lain bagi gerakan humanisme bergerak melampui “melintas penjara” dari sebagian besar sekolah atau madrasah dengan upaya menghadirkan lingkungan belajar yang mengarah pada pertumbuhan individual.[2] Sehingga gerakan hal tersebut bagi gerakan humanisme didalam pendidikan adalah keinginan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang mana siswa akan terbebas dari kompetensi yang seru, kedisiplinan yang keras, dan takut akan kegagalan.
Pada contoh diatas terdapat pada kelas 1 tema 7 subtema 2, mengajak peserta didik untuk mengeksplorasi diri sendiri dengan cara menirukan gerakan hewan yang mereka ketahui. Namun mengekplorasi diri sendiri tidak hanya dengan melakukan sebuah gerakan-gerakan hewan akan tetapi dapat menirukan suara-suara hewan yang mereka ketahui.
  1. Dasar Psikologi
Landasan psikologi pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan siswa dan psikologi belajar. [3]  sebagaimana yang dijelakan oleh Rusman, bahwa psikologi perkembangan dibutuhkan terutama dalam menentukan isi dan materi pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik agar keluasan, kepahaman dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal dan bagaimana isi atau materi pembelajaran tematik disampaikan kepada siswa dan bagaimana siswa harus mempelajarinya.
Menurut hasil dari observasi Pieget, menyebutkan teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif  terjadi dalam 4 tahap. Tahap-tahap diantaranya fase sensomotorik, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Pada pembahsan ini dapat dikategorigakn pada tahap operasional konkret proses pembelajaran anak diusia SD/MI (7-11 tahun), dalam usia ini memiliki kecenderungan perilaku, yaitu:
1.    Anak mulai memandang dunia secara objektif.
2.    Anak mulai berfikir secara operasional
3.    Anak mampu menggunakan cara berfikir operasional untuk mengklasifikasi benda-benda,
4.    Anak dapat memahami konsep subtansi, panjang, lebar, luas, tinggi, rendah, ringan dan berat.
  1. Dasar Hukum dan Kebijakan
Landasan hukum dan kebijakan pelaksanaan model pembelajaran tematik untuk sekolah tingkat dasar dan sederajat. Menurut Ibnu Hajar terdiri dari berbagai ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang sifatnya mengikat dan memaksa, serta mendukung penerapan pembelajaran tematik di SD/MI. ada dua landasan yuridis penerapan pembelajaran tematik, yaitu:[4]
1.      Undang-undang No. 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak. pasal 9 dalam undang-undang ini menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran  dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasan yang sesuai dengan minat dan bakat. Undang-undang ini menjadi landasan yuridis penerapan pembelajaran tematik karena menggunakan norma dan ketentuan pembelajaran tematik, yaitu memaksimalkan pendidikan dan pengajaran siswa sejak dini sehingga dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia seutuhnya.
2.      Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional. Pada Bab V pasal 1b dinyatakan secara tegas bahwa setiap siswa pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan sesuai bakat dan minat dan kemampuannya. Undang-undang ini memang layak dijadikan landasan yuridis karena penerapan pembelajaran tematik dalam kegiatan belajar dan mengajar di SD/MI bisa menampung kebutuhan belajar para siswa yang diintegrasikan dengan minat dan bakat.
  1. Karakteristik Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut:[5]
1.      Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik terpadu berpuat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai objek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu member kemudahan-kemudahan terhadap siswa untuk melakukan aktifitas belajar.
2.      Memberikan pengalaman langsung pada siswa
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa, dengan demikian siswa dihadapkan langsung dengan keadaan yang nyata atau konkret sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang abstrak.
3.      Pemisah muatan pelajaran yang tidak begitu jelas
Ketidak jelasan pemisah antara pelajaran bukan berarti menghilangkan esensi mata pelajaran dan menghilangkan tujuan pembelajaran. Dapat diambil contoh, tema jual beli yang dapat dibahas melalui materi pendidikan agama islam, ips, dan matematika, dari ketiga materi tersebut dapat mengkaburkan focus siswa dengan apa yang sedang dipelajari. Namun disisi lain guru memiliki tanggung jawab untuk menfokuskan arah pelajaran yang sedang dipelajari dengan memberikan pendekatan-pendekatan sesuai dengan tema yang dianggap paling dekat dengan kehidupan para siswa.
4.      Menyajikan konsep dari berbagai muatan mata pelajaran
Pembelajaran tematik meyajikan konsep-konsep yang berkaitan dengan tema dari berbagai muatan mata pelajaran yang dipadukan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat memahami konsep secara utuh dan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapindalam kehidupan sehari-hari.
5.      Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat fleksibel dimana guru dapat mengaitkan dan memadukan bahan ajar dari berbagai muatan mata pelajaran, bahkan dapat mengaitkan dengan kehidupan siswa serta keadaan lingkungan sekolah maupun siswa berada.
6.      Hasil pembelajaran bekembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki siiswa sesuai dengan dengan  minat, bakat dan kebutuhannya.
7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

Adapun Karakteristik dari Pembelajaran Tematik menurut TIM pengembang PGSD, 1997 (Hesty, 2008) adalah:[6]
1.      Holistik, suatu gejala atau fenomena menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari berbagai bidang studi sekaligus, tidak dari sudut pandat yang berkotak-kotak.
2.      Bermakna
3.      Otentik, pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari.
4.      Aktif, pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasar pada pendekatan inquiry discovery, dimana siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi.
E.     Rambu-rambu Pembelajaran Tematik
Dalam pembelajaran tematik ada beberapa yang harus diperhatikan guru adalah sebagai berikut:[7]
1.    Tidak semua mata pelajaran dapat dipadukan.
2.    Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dilintas semester
3.    Kompetensi dasar yang tidak dapak dipadukan tidak harus  dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak dapat diintegrasikan dibelajarkan secara sendiri.
4.    Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
5.    Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
6.    Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, lingkungan, dan daerah setempat.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.         Dasar Filosofis
Landasan dasar filosofis dalam pengembangan kurikulum sangat mempengaruhi kualitas  pembelajaran tematik kemunculan dipengaruhi oleh tiga aliran berikut: a) progresivisme, b) konstruktivisme, c) humanisme.
2.         Dasar Psikologi
Landasan berkaitan dengan perkembangan psikologi kognitif, perkembangan ini dibutuhkan terutama dalam menentukan isi dan materi pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik agar keluasan, kepahaman dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
3.         Dasar Hukum dan Kebijakan
Landasan hukum dan kebijakan pelaksanaan model pembelajaran tematik untuk sekolah tingkat dasar dan sederajat. Menurut Ibnu Hajar terdiri dari berbagai ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang sifatnya mengikat dan memaksa, serta mendukung penerapan pembelajaran tematik di SD/MI, yakmi terdapat pada Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
4.         Karakteristik Pembelajaran Tematik Terpadu, diantaranya:
Berpusat pada siswa, b) Memberikan pengalaman langsung pada siswa, c) Pemisah muatan pelajaran yang tidak begitu jelas, d) Bersifat fleksibel, e) Hasil pembelajaran bekembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, f) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
5.         Rambu-rambu Pembelajaran Tematik
a.     Tidak semua mata pelajaran dapat dipadukan.
b.      Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dilintas semester
c.       Kompetensi dasar yang tidak dapak dipadukan tidak harus  dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak dapat diintegrasikan dibelajarkan secara sendiri.
d.      Kopetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
e.       Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
f.        Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, lingkungan, dan daerah setempat.
  
Daftar Pustaka
Hajar, Ibnu, 2013. Panduan Lengkap Kurikulum Tematik, Yogyakarta: Diva Press.
Majid, Abdul, 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Prastowo, Andi, 2014. Pengembangan Bahan Ajar Tematik, Jakarta: KENCANA.
Rusman, 2010. Model –model Pembelajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
______, 2015. Pembelajaran Tematik Terpadu, Teori, Praktik dan Penilaian, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.




[1] Rusman, Model –model Pembelajaran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), 255.
[2] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan Ajar Tematik, (Jakarta: KENCANA, 2014), 83.

[3] Ibnu Hajar, Panduan Lengkap Kurikulum Tematik, (Yogyakarta : Diva Press, 2013), 28.
[4] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan Ajar Tematik, (Jakarta: KENCANA, 2014), 92.
[5] Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu, Teori, Praktik dan Penilaian, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2015), 146-147.
[6] Abdul Majid, Pembelajaran Tematik Terpadu, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 90-91.
[7] Abdul Majid, Pembelajaran Tematik Terpadu, (bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 91.


Jumat, 10 April 2020

MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ICT


MAKALAH


“MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ICT”

Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pengembangan Media Pembelajaran Berdasarkan ICT’

yang di Bimbing Oleh:

Dr. Khotibul Umam, M. A Dr. A. Suhardi, S.T., M.Pd.






Di Susun Oleh :


KHUSNUL KHOVIA NIM. 0849419012



PROGRAM STUDI PENDIDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER MARET 2020

KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena rahmat serta hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dan semoga sholawat dan salam tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari jurang- jurang kehancuran dan dari jalan yang gelap gulita menuju jalan yang terang benderang, yakni agama Islam.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan masukan yang bermanfaat sehingga makalah kami ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Disamping itu penulis juga menyadari makalah ini tidak terlepas dari segala kekurangan, oleh karenanya segala bentuk kritikan sangat penulis harapkan untuk selangkah lebih maju pada kesempatan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb







Penulis, 26 Maret 2020



Khusnul Khovia



DAFTAR                         ISI COVER     i
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN............................................................................................. 1
PEMBAHASAN............................................................................................... 3
A.      Fungsi Media Pembelajaran Berbasis ICT........................................... 3
B.      Penggunaan Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT......... 3
C.      Cara Mengembangkan Pembelajaran Media ICT................................ 4
BAB                                                                                                          III PENUTUP   19




A.     Latar Belakang


BAB I PENDAHULUAN


Perkembangan media pembelajaran hingga sampai abad ke-20, membawa pengaruh yang sangat signifikan dan berimplikasi dalam dunia pendidikan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dikembangkan membawa pengaruh-pengaruh dalam setiap elemen pembelajaran, sehingga membentuk suatu paradigma baru terkait dengan pendidikan dan pembelajaran.
Teknologi informasi dan komunikasi atau multimedia menjadi pilihan yang tepat untuk digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan pesan pendidikan, karena dalam penggunaan media yang berbasis ICT/ Multimedia ini mampu memperjelas setiap makna pesan yang disampaiakan dan mampu mencakup setiap modalitas belajar peserta didik.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Berbagai materi yang berkaitan dengan sejarah masa lalu akan lebih konkrit dan mudah dipahami apabila disampaikan oleh guru dengan gambar-gambar foto, film dokumenter, atau animasi seperti hewan purbakala, animasi ruangruang dalam piramide Mesir dan sebagainya.1
Sekarang ini kita hidup dalam era informasi yang ditandai dengan tersedianya informasi yang semakin banyak dan bervariasi, tersebarnya informasi yang makin meluas dan seketika, serta tersajinya informasi dalam berbagai bentuk dalam waktu yang cepat. Karena semua usaha pengumpulan, engolahan, penyimpanan, dan penyajian informasi senantiasa menggunakan media, maka era ini dapat pula disebut lingkungan bermedia.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1.             Apa fungsi media pembelajaran berbasis ICT?
2.             Bagaimana penggunaan pengembangan media pembelajaran berbasis ICT?
3.             Bagaimana cara mengembangkan pembelajaran media ICT?


1  Nunuk Suryani, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis IT. (Pascasarjana Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret, 2015), 2.

C.     Tujuan

1.             Untuk mengetahui fungsi media pembelajaran berbasis ICT
2.             Untuk mengetahui penggunaan pengembangan media pembelajaran berbasis ICT
3.             Untuk mengetahui cara mengembangkan pembelajaran media ICT

BAB II

PEMBAHASAN

A.                 Fungsi Media Pembelajaran ICT

Kegiatan pembelajaran melibatkan berbagai komponen. Salah satunya yang tidak kalah penting adalah komponen media. Media memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat penting untuk membantu kelancaran proses pembelajaran dan efektivitas pencapaian hasil belajar.
1.       Fungsi Media Pembelajaran ICT

Menurut Levied an Lentz (Arsyad, 2005:26-17), khususnya media visual, mengemukakan bahwa media pembelajaran memiliki empat fungsi, yaitu atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian peserta didik untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Sering kali pada awal pelajaran peserta didik tidak tertarik dengan materi pelajaran itu merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka tidak memperhatikan. Media gambar khususnya gambar yang diproyeksikan melalui overhead projector (OHP) dapat menerangkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada pelajaran yang akan mereka terima.
Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan peserta didik ketika belajar atau membaca teks yang bergambar. Gambar atau lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap peserta didik, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau raas. Fungsin kognitif media visual terlihat dari temuan visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu peserta didik yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali, untuk mengakomodasikan peserta didik yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.

Menurut Kemp dan Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu: a) memotivasi minat atau tindakan, b) menyajikan informasi dan, c) member instruksi. Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan tehnik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para peserta didik atau pendengar untuk bertindak (turut memikul tanggung jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan sumbangan materiel). Pencapaian tujuan ini akan memengaruhi sikap, nilai, dan emosi.
Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka penyajian informasi di hadapan sekelompok peserta didik. Isi dan bentuk penyajian bersifat umum, berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang. Penyajian dapat pula berbentuk hiburan, drama, tehnik motivasi. Ketika mendengar atau menonton bahan informasi, para peserta didik bersifat peserta didik bersifat pasif. Partisipasi yang diharapkan dari peserta didik hanya sebatas pada persetujuan atau ketidaksetujuan mereka secara mental, atau terbatas pada perasaan tidak/kurang senang, netral, atau senang.
Media berfungsi untuk tujuan instruksi di mana informasi yang di dapat dalam media itu harus melibatkan peserta didik, baik dalam benak atau mental maupun dalam aktivitas yang nyata sehingga dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis dilihat dari segi prinsip-prinsip belajar agar menyiapkan instruksi yang efektif. Di samping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan peserta didik.2

B.            Pengunaan Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT

1.       Penggunaan
Asumsi dasar dalam penggunaan media pembelajaran adalah agar dalam proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan menarik. Media pembelajaran yang berbasis

2  Husniyah Salamah Zainiyah, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT. (Surabaya:Kencana, 2017), 67- 68.

ICT/Multimedia atau tidak pada dasarnya adalah alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan kepada penerima pesan. Multimedia misalnya, ketika digunakan dalam proses pembelajaran memadukan atau menggabungkan beberapa jenis media agar pesan yang disampaiakan lebih bermakna kepada peserta didik.
Richard dengan penjelasannya yang rinci mengatakan, multimedia sebagai prresentasi materi dengan menggunakan kata-kata sekaligus gambar-gambar. ‘kata’ di sini adalah materinya disajikan dalam verbal form atau bentuk verbal, misalnya menggunakan teks kata-kata yang tercetak atau terucapkan. Yang dimaksud dengan ‘gambar’ adalah materinya disajikan dalam fictorial form atau bentuk gambar. Hal ini bisa dalam bentuk menggunakan grafik statik (termasuk: ilustrsi, grafik, foto dan peta). Dalam buku teks, kata-kata bisa disajikan sebagai teks cetak dan gambar bisa disajikan sebagai ilustrasi atau bentuk-bentuk grafik lainnya.
Penggunaan media berbasis ICT atau Multimedia membawa pengaruh-pengaruh psikologis bagi peserta didik dalam proses pembelajarannya. Karena semakin banyak indera yang terjamah, maka semakin banyak pula cara peserta didik dalam menerima, mengolah dan memaknai setiap pesan yang disampaiakan oleh pendidik ketika menggunakan media pembelajaran yang berbasis ICT/Multimedia.
Penggunaan media berbasis ICT/Multimedia akan berjalan efektif dan akan mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada kegiatan peserta didik (student/ learned centred learing), yaitu dengan:
a.  Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata (kontekstual), sehingga pendidikan menjadi relevan dan responsif terhadap tuntutan kehidupan nyata sehari-hari. Implikasinya kurikulum menjadi lebih menarik dan dapat merangsang minat atau motivasi peserta didik, karena dapat langsung dengan mudah menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata sehari- hari.
b.  Menumbuhkan pemikiran reflektif
c.  Membantu perkembangan dan keterlibatan aktif dari peserta didik dalam proses belajar.

Sehingga dapat dikatakan bahwa, penggunaan media pembelajaran berbasis ICT/multimedia lebih kepada mengkongkritkan pengalaman belajar peserta didik agar lebih dipahami dan dimaknai dengan lebih optimal. Selain itu, proses pembelajaran akan bisa mengurangi keabstrakan sebuah materi karena didukung oleh media pembelajaran yang berbasis ICT/Multimedia.
2.       Manfaat Media Pembelajaran Berbasis ICT/Multimedia
Media pembelajaran berbasis ICT/Multimedia memiliki manfaat yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Jika ditilik secara seksama media pembelajaran berbasis ICT memiliki dua manfaat dilihat dari penggunaannya. Pertama, manfaat dilihat dari sisi pendidik sebagai pengguna dari media. Kedua, manfaat dari sisi peserta didik sebagai penerima pesan yang disampaiakan oleh pendidik.
Mengintegrasikan TIK/ Multimedia ke dalam pembelajaran antara lain untuk meningkatkan kompetensi pengajar dalam mengajar dan meningkatkan mutu belajar peserta didik. TIK yang sifatnya inovatif dapat meningkatkan apa yang sedang dilakukan sekarang serta apa yang belum kita lakukan tetapi akan dapat dilakukan ketika kita mulai menggunakan teknologi informasi komunikasi.
Sudjana dan Rivai secara lebih rinci mengemukakan beberapa manfaat media pengajaran dalam proses belajar mengajar antara lain.
1)             Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
2)             Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik
3)             Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran
4)             Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemontrasikan dan lain-lain.

Dapat dipahami bahwa, intraksi yang terjadi dalam proses pembelajaran, meteri ajar yang disampaikan guru tidak sepenuh bisa dicerna dengan baik, karena setiap indra yang menerima pesan memilki keterbatasan. Untuk itu media pengajaran memilki peran yang sangat strategis untuk menyalurkan pesan baik melalui indra pendengar, penglihatan maupun kedua-duanya.3

C.           Tahapan Pengembangan Media Pembelajaran ICT

1.       Tahap pengembangan media

Ada beberapa tahap pengembangan media, yaitu tahapan perencanaan, tahap penulisan naskah dan tahap produksi media. Setiap tahapan diuraikan di bawah ini.
a.       Tahapapan perencanaan

Ely (1979) mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Suatu perencanaan diawali dengan adanya target atau Ely mengistilahkan dengan kata “hasil” yang harus dicapai, selanjutnya berdasarkan penelitian target tersebut dipikirkan bagaimana cara mencapainya. Sejalan dengan pendapat di atas Kaufman (1972) memandang bahwa perencanaan itu adalah sebagai suatu proses untuk menetapkan “kemana harus pergi” dan bagaimana untuk sampai ke “tempat” itu dengan cara yang paling efektif efisien. Menetapkan “ke mana harus pergi” mengandung pengertian sama dengan merumuskan tujuan dan sasaran yang akan dituju. Adapun merumuskan “bagaimana agar sampai ke tempat itu” berarti menyusun langkah-langkah yang dianggap efektif dalam rangka mencapai tujuan. Sebuah rencana adalah sebuah dokumen dari hasil kegiatan.
Sejalan dengan pendapat diatas, Terry (1993) mengungkapkan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dari penjelasan di atas, perencanaan pada dasarnya adalah penetapan tujuan yang harus serta menentukan cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.



Dalam perencanaan pengembangan media khususnya media audio dan audiovisual ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan, yaitu mengidentifikasi kebutuhan audiens (siswa) yang akan akan menggunakan media yang akan kita kembangkan, merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa mengembangkan butir- butir materi sesuai dengan tujuan, mengembangkan garis besar pengembangan media.
1)             Indentifikasi kebutuhan

John Mcneil (1985) mendefinisikan need assessment sebagai ”the process by which one defines education needs and decides what their priorities are”. Menurut Mcniel assessment itu adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan. Selanjutnya ia mendefinisikan kebutuhan sebagai “….a condition in swich there is a discrepancy between an acceptable state of learner behavior or attitude and on abserved learned state.”
need assessment adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi dengan kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki. Media direncanakan dan dirancang berdasarkan kebutuhan (need) yang dirasakan oleh audiensi atau siswa. Maka, merancang suatu media tidak berangkat dari keinginan pengembangan media itu sendiri, akan tetapi berangkat dari kesenjangan antara apa yang diharapkan dimiliki siswa dengan apa yang telah dimiliki. Sebagai contoh, dalam materi tentang jenis-jenis kalimat, akan tetapi dapat memberikan contoh-contoh rumusannya. Setelah guru merancang dan mengimplementasikan hal-hal tersebut:
a)             Siswa memiliki kesulitan dalam menyusun dan merumuskan kalimat majemuk.
b)            Siswa selalu salah dalam memberikan contoh rumusan kalimat majemuk.
c)             Siswa cenderung sulit membedakan antara rumusan kalimat majemuk dengan kalimat tunggal
Berdasarkan analisis tersebut diatas, ditentukan perlunya pengembangan media pembelajaran mengenai kalimat majemuk. Inilah hakikat kebutuhan dalam pengembangan media.
2)             Identifikasi karakteristik siswa

Perlunya mengidentifikasi karakteristik siswa berangkat dari asumsi bahwa siswa merupakan organism yang unik yang memiliki perbedaan. Walaupun secara fisik siswa sama, akan tetapi pada bagian-bagian tertentu memiliki perbedaan, misalnya dalam hal kemampuan dasar, minat, bakat, dan lain sebagainya. Atas dasar perbedaan tersebut, maka pengembang media pembelajaran perlu menyesuaikan baik dengan gaya bahasa, tehnik penyajian, tehnik memberikan instruksi, dan lain sebagainya.
Hal-hal yang perlu perhatikan dalam identifikasi karakteristik sewa sehubungan dengan perencanaan pengembangan media pembelajaran:
a)  Tingkat perkembangan psikologis siswa. Tingkat perkembangan siswa berhubungan dengan usia audiensi (siswa) sebagai sasaran. Mengembangkan media pembelajaran untuk anak usia TK/SD berbeda dengan mengembangkan media pembelajaran untuk siswa SMP, SMA atau untuk umum, baik dalam pengemasan materi, pemberian ilustrasi, dan lain sebagainya.
b)  Kemampuan dasar siswa. Kemampuan dasar yang dimiliki siswaa harus dijadikan harus jadi petimbangan-pertimbangan dalam menentukan “harus dari mana kita berangkat”. Di samping itu kemampuan dasar dapat dijadikan pedoman dalam menentukan entry behavior.
c)  Gaya belajar siswa. Gaya belajar yang dimiliki siswa dapat menentukan “bagaimana cara menuangkan ide/gagasan” dalam pengembangan media pembelajaran. Menurut Deporter gaya belajar siswa terdiri atas gaya belajar yang kinestetik, audio, dan visual (Deporter, dkk: 1998).
d)  Kebiasaan siswa. Kebiasaan siswa perlu diidentifikasi khususnya apabila kita mengembangkan media pembelajaran yang bersifat masal, melalui siaran radio maupun televise. Kebiasaan siswa dalam penggunaan waktu, kebiasaan penggunaan media termasuk tehnik penyajian yang paling digemari.
b.       Perumusan tujuan

Perumusan tujuan pembelajaran merupakan arah yang harus dicapai oleh siswa. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran berhubungan dengan perubahan perilaku yang harus dimiliki setelah siswa memanfaatkan media pembelajaran yang kita kembangkan. Dengan tujuan pembelajaran, baik guru maupun siswa diharapkan memiliki kesenjangan

apa yang harus dicapai, apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan pencapaian tujuan tersebut, materi apa yang harus disampaikan dan bagaimana penyampaiannya. Sebagai petunjuk, perumusan tujuan harus memiliki ketentuan sebagai berikut:
1)             Berorientasi pada siswa (learned oriented): artinya rumusan tujuan pembelajaran harus berpatokan pada perilaku siswa, dan bukan perilaku guru.
2)             Operation: artinya tujuan harus dirumuskan secara spesifik dan operasional sehingga mudah untuk mengukur tingkat keberhasilan.
c.       Pengembangan materi

Dalam pengembangan materi pembelajaran penerapan materi atau bahan ajar merupakan hal yang penting, sebab materi pembelajaran merupakan inti atau muatan dalam media itu sendiri. Materi pembelajaran dapat dibedakan menjadi: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude). Pengetahuan adalah informasi yang disimpan dalam pikiran (mind) siswa, dengan demikian pengetahuan berhubungan dengan berbagai informasi yang harus dihafal siswa dan dikuasai siswa, sehingga manakala diperlukan siswa dapat mengungkapkan kembali. Keterampilan (skill) adalah tindakan-tindakan (fisik dan nonfisik) yang diperlukan seseorang dengan cara kompeten untuk mencapai tujuan tertentu. Sikap (attitude) adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini kebenarannya oleh siswa.
Materi berkaitan dengan isi pelajaran yang harus diberikan. Kriteria penyusunan materi diantaranya:
1)              Sahih atau valid; artinya materi yang dikembangkan benar-benar telah diuji kebenarannya dan kesahihannya.
2)              Tingkat kebermakanaan (significant); artinya materi pelajaran bermakna bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dikembangkan.
3)              Kebermanfaatan (utility); artinya kebermanfaatan materi yang disajikan secara akademis dan non akademis, yakni bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
4)              Kesesuaian dengan siswa (learnability) artinya materi yang disajikan harus dimungkinkan dapat dipelajari oleh siswa, dengan demikian materi pelajaran harus sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

5)              Menarik minat (interest) artinya penyajian materi pelajaran harus dapat memotivasi siswa mempelajari lebih lanjut.
d.       Pengembangan alat ukur

Setelah merumuskan tujuan dan menetapkan materi pembelajaran, langkah selanjutnya adalah merumuskan alat ukur. Ada dua alasan penting perlunya merumuskan alat ukur; pertama, untuk menentukan benar atau tidaknya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan misalnya, apa yang dirumuskan berorientasi pada siswa? Apa tujuan yang dirumuskan merupakan perubahan perilaku yang spesifik tidaknya, apakah perilaku yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran adalah hasil pembelajaran? kedua, untuk menetapkan kriteria keberhasilan siswa mencapai tujuan atau menguasai materi pelajaran.
2.       Penulisan naskah

Naskah dalam perencanaan program media secara umum dapat diartikan sebagai pedoman tertulis yang berisikan informasi tentang bentuk visual yang akan ditampilkan, grafis atau tampilan kalimat untuk mempertegas visual dan audio atau suara yang diperlukan sebagai acuan dalam pembuatan media tertentu.
Ada berapa tahapan penulisan naskah, sebagai berikut:

a.       Memunculkan dan memperkaya ide atau gagasan
Gagasan atau ide biasanya akan muncul manakala seseorang peka terhadap lingkungan dan pekerjaan sehari-hari. Dari kepekaan tersebut kemudian ia berpikir bagaimana caranya agar pelajaran menarik dan menggairahkan siswa melalui metode.
b.         Membuat sinopsis dan treatment
Sinopsis secara singkat dapat diartikan sebagai ringkasan proram atau ringkasan cerita yang terdapat pada naskah. Sinopsis ini diperlukan untuk memberikan gambaran ringkas dan padat tentang isi yang terkandung dalam media. Treatment merupakan pengembangan sinopsis. Dalam sebuah treatment digambarkan alur cerita atau plot program dari awal hingga akhir.

c.       Menulis naskah
Naskah sebagai pedoman atau penuntun dalam memproduk si media. Artinya berdasarkan naskah itulah kita mengambil gambar dan merekam suara kemudian menyusunnya dalam suatu urutan sehingga menjadi utuh.
d.       Evaluasi dan revisi naskah
Selesai menulis naskah, masih ada satu tahapan lagi sebelum naskah itu diproduksi, yaitu tahap evaluasi dan revisi naskah. Evaluasi naskah perlu dilakukan terhadap dua aspek, yaitu evaluasi tentang substansi naskah itu sendiri dan evaluasi  ke median. Evaluasi terhadap substansi naskah, yakni evaluasi terhadap isi pelajaran yang terkandung dalam naskah yang kita produksi. Dengan demikian, dalam evaluasi ini perlu melibatkan ahli bidang studi.
e.       Produksi media
Untuk menghasilkan media pembelajaran, kegiatan produksi merupakan tahap akhir. Secara sederhana proses produksi media pembelajaran terdiri atas tiga tahap yakni praproduksi (pre-production), pelaksanaan produksi (production) pasca- produksi.
Tahapan pra-produksi, adalah tahap sebelum pelaksanaan produksi. Hal perlu dilakukan karena dua alasan penting, pertama, produksi media merupakan pekerjaan kolektif yang kompleks, yang melibatkan orang banyak sehingga setiap orang perlu memahami peran masing-masing. Kedua, media pembelajaran merupakan pekerjaan yang bukan hanya mengandung proses kreatif dengan segala imajinasi sesuai dengan naskah yang dikembangkan, akan tetapi juga media pengembangan mengandung kebenaran ilmiah yang harus dipertanggungjawabkan.4





A. Kesimpulan


BAB III KESIMPULAN


Media berfungsi untuk tujuan instruksi di mana informasi yang di dapat dalam media itu harus melibatkan peserta didik, baik dalam benak atau mental maupun dalam

4  Husniyah Salamah Zainiyah, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT. (Surabaya:Kencana, 2017), 104- 118.

aktivitas yang nyata sehingga dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis dilihat dari segi prinsip-prinsip belajar agar menyiapkan instruksi yang efektif. Di samping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan perorangan peserta didik.
Penggunaan media berbasis ICT/Multimedia akan berjalan efektif dan akan mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada kegiatan peserta didik (student/ learned centred learing), yaitu dengan: Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata (kontekstual), sehingga pendidikan menjadi relevan dan responsif terhadap tuntutan kehidupan nyata sehari-hari, menumbuhkan pemikiran reflektif, membantu perkembangan dan keterlibatan aktif dari peserta didik dalam proses belajar. Tahap pengembangan media ICT yaitu: tahapapan perencanaan, perumusan tujuan, pengembangan materi, pengembangan alat ukur produksi media.


DAFTAR PUSTAKA



Salamah Zainiyah, Husniah. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT.
Surabaya:Kencana.

Suryani,  Husniah,  2015.     Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis IT. Pascasarjana Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik

MAKALAH Landasan dan Karakteristik Pembelajaran Tematik Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Tematik...